Penumpang Lion Air Turun Drastis Paska Bagasi Berbayar

JAKARTA – hariancentral.com: Usai tragedi jatuhnya pesawat dan pemberlakuan bagasi berbayar bagi penumpang domestik, perusahaan penerbangan Lion Air mengalami penurunan permintaan. Atau sepi penumpang dan hal tersebut dibenarkan Managing Director Lion Air Group, Daniel Putut Kuncoro.
Namun, dia membantah penurunan jumlah penumpang itu disebabkan penerapan kebijakan bagasi berbayar.
“Sekarang lagi low season sih, memang pasti semua maskapai juga mengalami hal ini (penurunan jumlah penumpang). Kan ini momen di low season, tapi (tingkat keterisian) kami masih di atas 70 persen sih,” ujar Daniel di Gedung DPR RI, Kamis (31/1/2019) malam.
Daniel menambahkan, perusahaannya sebenarnya menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 10 persen dengan menerapkan bagasi berbayar ini.
Namun, jika kebijakan ini resmi ditunda, dia mengaku belum mengetahui seberapa besar dampaknya bagi keuangan perusahaan.
“Kita agak lebih fleksibel sabagai pengusaha. Kalau itu (penundaan bagasi berbayar) menjadi fix, itu yang akan menjadi benar-benar buat strategi baru lagi untuk bisnis proses supaya dapat sustainable lagi,” kata Daniel.
Sebelumnya, Lion dan Wings Air telah menghapus layanan bagasi gratis bagi para penumpang rute domestiknya mulai 22 Januari 2019 lalu.
Namun, kebijakan itu ditentang DPR RI Komisi V DPR RI meminta kebijakan itu ditunda penerapannya karena dianggap memberatkan masyarakat.
Ketika ditanyakan kepada salah seorang penumpang Lion Air yang baru saja tiba dari Manado di Bandara Soekarno Hatta.dengan wajah yang sedih dia mengatakan “Saya,anak saya yang baru berumur 1 tahun dan suami saya pada tanggal 28 kemarin dari bandara Sambratulangi Manado hendak ke Jakarta dengan maksud suami saya mendapat panggilan kerja terpaksa kami harus berangkat.
Namun setelah kami tiba di bandara keberangkatan di Manado ternyata setengah barang kami tidak bisa di bawa sebab sudah lebih 3kg dan harus bayar 800 ribu kata salah seoraang petugas bagian cekin dengan rasa berat hati terpaksa saya kurangi saja pakaian termasuk pakaian anak saya yang mesih berusia 1 tahun.Saya sangat sedih saat itu kok tega baraang kami yang hanya kurang dari 20kg atau 10kg harus membayar uang 800 ribu, ujarnya.
Dengan tertatih-tatih dan meneteskan air mata terpaksa sebagin pakaian anak saya serta suami saya masuk kan di kantong kresek dan menaruh di bawah bangku ruang tunggu dibiarkan begitu saja dengan langkah tertatih tatih dan bersedih selain harga tiket yang begitu mahal dan harus pula merelakan pakaian anak saya yang tak di ngkut.Namun saya berdoa Tuhan kuatkanlah hati hamba, kata RB seorang Ibu muda penumpang salah satu korban bagasi berbayar tujuan Manado Jakarta. *MB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here