“De Tradisi” Bawa Komposisi Karo di Solo International Performing Arts

"De Tradisi" dibadikan setibanya di Solo

Solo-hariancentralonline.com: Kelompok musik  anak Medan “De Tradisi”  memboyong sejumlah komposisi berbasis etnik Karo ke Solo International Performing Arts (SIPA) 2019.

Acara yang berlangsung di Benteng Vastenburg Solo digelar pada tanggal 5 s.d 7 September 2019 diramaikan musisi dalam dan luar neger.”De Tradisi” dijadwalkan tampil Sabtu malam (7/9).

“De Tradisi” merupakan grup musik yang bergenre world musik digawangi Brevin Tarigan DKK. Seluruh personel sejak Jumat petang sudah sampai di Solo. “ Dimotivasi kearifan lokal, kami akan tampil habis-habisan,” ujar Em Ady Krysna Bassanary Bangun , personal “De Tradisi” yang dihubungi di Solo.

Hajatan tahunan ini  dimulai, Kamis (5/9/2019) dihadiri Direktur SIPA, Irawati Kusumorasri, Walikota Surakarta, F.X Hadi Rudyatmo  dan Duta Besar Korea Selatan, H.E Mr. Kim Chang Beom. Acara dibuka Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management CoE, Kementrian Pariwisata, Dra. Esthy Reko Astuty, M.Si.” Suatu kehormatan SIPA kali ini bisa kedatangan tamu dari Kedutaan Besar Korea Selatan” ungkap Irawati Kusumorasri.

Penampilan pembuka adalah Elizabeth Sudira, penyanyi asal Solo yang terpilih sebagai maskot SIPA 2019, feat Semarak Candrakirana, sanggar tari Solo yang dipimpin Direktur SIPA. Setelah penonton disuguhkan penampilan dari Chun Seul Dance Company yang merupakan grup tari yang berasal dari Korea.

Selanjutnya grup tari asal Riau Malaydansstudio tampil dengan ragam gerak tari melayu. Kemudian penampilan dilanjutkan oleh Century Contemporery Dance Company asal Taiwan, Abib Igal Dance Projek asal Palangkaraya, Chinese Youth Goodwill Assosiasion asal Taiwan, dan kemudian ditutup dengan permainan musik oleh Kunokini & Svaraliane yang berasal dari Jakarta.

 Penampil  pada Sabtu, 7 September 2019 adalah De Tradisi (Medan-Indonesia) , Senju Kabuki Dance Company (Jepang), Folakatu Art Tidore (Tidore, Maluku Utara-Indonesia), Pooja Mani of the Arts and the Aesthetics Foundation and Pooja Bhatnagar of Bali (India), Bunga Band (Jakarta-Indonesia), Mila Art Dance (Yogyakarta-Indonesia), Chinese Youth Goodwill Association (Taiwan), Aceh Performance Art (Aceh-Indonesia) dan Rion Five (Korea Selatan)

SIPA pertama kali diadakan di Pamedan Istana Mangkunegaran pada 2009 berdasarkan gagasan Ir. Joko Widodo ketika menjabat sebagai wali kota Solo. Awalnya SIPA diselenggarakan di Pamedan Istana Mangkunegaran.

Namun sejak penyelenggaraan yang ke-5 pada tahun 2013, pagelaran dipindahkan di Benteng Vastenburg, karena memiliki nilai sejarah yang tinggi dan lokasinya strategis di tengah Kota Solo. Gelaran SIPA ini selalu sukses dikunjungi lebih dari 10.000 penonton pada setiap tahunnya. Setiap pagelaran, SIPA menggandeng seniman dari berbagai negara di berbagai benua di dunia seperti dari Asia, Australia, Eropa, Afrika, dan Amerika.

Pagelaran SIPA menggunakan panggung kolosal, berukuran panjang 20 meter dan lebar 16 meter, sedangkan Benteng Vastenburg digunakan sebagai latar belakang panggung. Selain menawarkan beragam pertunjukian seni, SIPA juga diisi dengan bazar yang menjual makanan dan minuman populer di Solo.*rls

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here