DPRD: Masih Banyak PR Walikota Medan

Share it:

Teks Foto: Wakil Ketua DPRD Medan Burhanuddin Sitepu SH. * hariancentral.com -Ist

Medan - hariancentral.com: HUT Kota Medan ke 428 tahun tepat 1 Juli 2018, namun dalam usianya yang sudah sangat tua tersebut masih banyak pekerjaan rumah dan koreksi untuk Walikota Medan yang saat ini dijabat oleh Dzulmi Eldin yang harus diperbaiki.

Dari mulai jalan rusak di seluruh penjuru Medan hingga dijuluki kota sejuta lobang, drainase yang acapkali tumpat di mana-mana, billboard sampai pembangunan Islamic Centre seperti yang sudah diikrarkan Dzulmi Eldin dalam janji politiknya saat berkampanye, tidak juga selesai.

Menurut Wakil Ketua DPRD Medan Burhanuddin Sitepu SH kinerja Dzulmi Eldin dalam mengatasi banjir di Kota Medan sudah lebih baik dibanding sebelumnya.Namun masih banyak PR Walikota Medan yang harus diselesaikan.

"Sungguh dari infrastruktur dari hari ke hari ada lebih bagus. Sebelumnya, khusus infrastruktur drainase, jika Medan sedikit saja bersanding dengan cuaca ekstrim, Medan langsung banjir. Namun belakangan ini, banjir tetap ada walau pun di titik-titik tertentu dan tidak berlangsung lama hingga delapan jam, enam jam. Kini satu jam saja sudah surut.Meski demikian banjir akan terus terjadih jika pemerintah tidak mengevaluasi penyebabnya," komentar Wakil Ketua DPRD Medan Burhanuddin Sitepu di ruang kerjanya, kemarin terkait kondisi dan wajah Kota Medan di usia 428 tahun.

Jika kemarin hanya sebatas drainase sebagai sumber penyebab banjir, lanjutnya, sebenarnya yang lebih krusial daya tampung Sungai Deli yang semakin dangkal. Pendangkalan ini juga sebagai salah satu penyebab banjir di Kota Medan. Pada masa Rahudman menjabat Walikota Medan, pendangkalan ini tidak terjadi karena ia turun ke lapangan dengan membawa beko. Lalu mengorek sungai di titik-titik tertentu, kemudian membuangnya keluar. "Ini sangat bermanfaat untuk mengatasi banjir dalam kondisi seperti sekarang ini. Ini merupakan upaya pencegahan untuk mengatasi banjir tersebut," tegas politisi Partai Demokrat ini.

Burhanuddin Sitepu yang juga Ketua DPC Partai Demokrat ini menyampaikan koreksi baik secara pribadi maupun kelembagaan selaku Wakil Ketua DPRD Medan terkait Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor reklame hingga kini tidak tuntas.

"Aturan yang dibuat Walikota melalui Perwal No.17 dan 19 tidak spesifik dilaksanakan di lapangan. Saya yakin, jika ini dilakukan sudah pasti akan menghasilkan PAD yang mungkin saja berlipat ganda dari sekarang," cetusnya.

Namun sayangnya, berdasarkan fakta pada tahun 2016, capaian target PAD dari sektor reklame itu jauh panggang dari api. Dari target sebesar Rp87 miliar, hanya terealisasi Rp17 miliar. Jika sudah tidak capai target PAD, sudah pasti akan menghambat pembangunan di Kota Medan.

"Pemenuhan target PAD itu adalah modal bagi pemerintah untuk membangun Kota Medan yang sudah disepakati dengan lembaga legeslasi. Jika anggaran tidak tercapai sudah pasti program pembangunan tidak terlaksana," ujarnya.

Berikutnya, Kota Medan sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia sampai saat ini minim ikon bila dibanding kota lainnya. Kota Medan yang berpenduduk 2,8 juta jiwa dengan luas daerah 46 kilometer persegi sebenarnya luar biasa. 

Selain sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara, Medan merupakan kota lintas kabupaten/kota lainnya. Sayangnya, lokasi yang strategis ini tidak diimbangi dengan kreatifitas untuk meraup PAD. Kenapa tidak diciptakan daya tarik khusus sehingga mampu menarik minat wisman berkunjung ke Medan. 

Selama ini, Medan hanya mengandalkan apa yang sudah ada seperti Istana Maimon, Tjong Afie, Masjid Raya yang kurang dirawat. Tidak ada yang bisa diandalkan. Demikian juga kulinernya. Mana yang dikatakan spesifik itu?

Dulu, saat Dzulmi Eldin hendak meraih kursi Walikota, dia berjanji akan membangun Islamic Centre di Medan Utara. Namun sampai saat ini tidak juga terbangun. Padahal, anggaran pengukuran, pematokan sudah dicairkan. Terakhir dapat laporan, kendalanya diperluasan tanah.

"Ini sudah tahun keempat, belum juga selesai. Dimana janji politik itu Islamic Centre itu sangat dibutuhkan di Medan. Phakpak Barat saja yang merupakan daerah di ujung sudah memilikinya. Sementara Medan yang berada di tengah provinsi dan ibukota provinsi belum juga terbangun," kritiknya.

Padahal, jika Islamic Centre ini dibangun diyakini akan menarik minat masyarakat untuk berkunjung dan melihat apa saja yang ada di Islamic Centre tersebut. *AG





Share it:

Medan

Wakil Rakyat

Post A Comment:

0 comments: