Sering Terjadi Macet, Warga Minta Pemko Perlebar Jalan Ayahanda

Share it:
Teks Foto: Warga Dapil 3 saat menghadiri reses-2 Anggota DPRD Kota Medan, Drs.Edward Hutabarat. *hariancentral.com - Ist

Medan - hariancentral.com: Akibat semakin padatnya pengguna jalan Ayahanda, membuat ruas jalan tersebut setiap hari selalu macet total. Apalagi saat ini di Jalan Ayahanda sudah ada Rumah Sakit Royal Prima yang pasiennya sangat banyak dari berbagai daerah di Kota dan luar Kota Medan.

Keberadaan Rumah Sakit Royal Prima tersebut telah menyebabkan kondisi jalan Ayahanda yang sempit semakin bertambah sempit dan macet. Warga yang tinggal di wilayah tersebut meminta pemerintah Kota Medan segera mencari solusi dengan memperlebar jalan Ayahanda agar dapat menampung kapasitas kenderaan yang lalu lalang setiap hari di jalan tersebut.

Demikian disampaikan salah satu warga Jalan Pabrik Tenun, Eden Manalu (45) saat menghadiri reses-2 Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan, Drs.Edward Hutabarat dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil 3 yang meliputi Medan Petisah, Medan Barat, Medan Helvetia dan Medan Baru, yang dilaksanakan di Jalan Jangka Ujung Kelurahan Sei Putih, Kecamatan Medan Petisah, baru-baru ini.

Selain itu, Eden juga berharap agar dibuka jalan baru dari Jalan Sampul tembus ke Jalan Kapten Muslim agar tidak terjadi kemacetan di pajak Sikambing.

Tomas Rajagukguk warga yang tinggal di Jalan Jangka Ujung Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah juga pada kesempatan itu meminta kepada anggota DPRD Kota Medan selaku wakil rakyat agar meminta kepada dinas Bina Marga untuk mengaspal Jalan Jangka Ujung yang panjangnya sekitar 75 meter. "Kami warga sekitar telah komplain karena sampai sekarang jalan tersebut belum juga diaspal, sementara kami sudah pernah mengajukan permohonan kepada Pemko Medan melalui Dinas Bina Marga Kota Medan," terangnya.

Selain masalah Jalan, warga yang mengikuti reses-2 anggota DPRD Kota Medan dari Dapil 3 ini juga meminta agar pemerintah Kota Medan memperhatikan parit-parit yang ada di Kecamatan Medan Helvetia, dengan melakukan pengorekan, sebab sudah banyak endapan sehingga membuat aliran parit tersumbat.

Selain masalah infrastruktur, warga kelurahan Dwikora juga berharap wakil rakyat dari Fraksi PDI-P ini mampu bekerjasama dengan pihak Kepolisian dan BNN karena maraknya masalah Narkoba di Kel Dwikora yang sudah sangat menghkawatirkan.

Budi warga Jalan Kertas Ayahanda juga meminta agar Pemko Medan menyediakan panti penampungan bagi orang gila dan gembel serta pengemis yang kian hari semakin bertambah di Kota Medan. Selain
itu, dia juga meminta Badan Statistik melakukan pendataan ulang terhadap penerimaan bantuan bagi keluarga harapan (PKH), agar tepat sasaran.

Mendengar keluhan warga tersebut, Edward Hutabarat menjelaskan pentingnya dilakukan reses sehingga masyarakat dapat bertemu langsung dengan wakil rakyat sehingga apa yang menjadi permasalahan dan keluhan di wilayahnya dapat didengarkan langsung oleh anggota DPRD Kota Medan dan mudah-mudahan dapat direalisasikan sesegera mungkin.

"Selaku wakil rakyat, kami adalah orang yang tepat bagi Bapak dan Ibu sekalian untuk mengadukan berbagai permasalahan yang sering terjadi di tempat tinggal masing-masing. Selama itu masih dapat diterima kita akan upayakan. Namun, masyarakat Kota Medan juga harus mengetahui batasan anggaran Pemko Medan sehingga tidak semua yang kita usulkan terus dapat direalisasikan namun secara bertahap," terang Edward.

Lanjut politisi dari partai PDI Perjuangan ini lagi, untuk setiap usulan yang diberikan oleh masyarakat pada pelaksanaan reses-2 nya kali ini, pasti akan dibawakan ke DPRD Kota Medan untuk diparipurnakan dan di beritahukan kepada Walikota Medan untuk segera ditindak lanjuti melalui dinas terkait. "Jika anggaran untuk itu tersedia, secepatnya Pemko Medan akan menindaklanjuti laporan kita, namun jika dana terbatas, maka usulan kita tadi bisa menjadi program kerja unttuk tahun mendatang," sebutnya.

Untuk penanggulangan Narkoba lanjut Edward adalah bukan saja tanggung jawab pihak BNN dan Kepolisian, namun juga tanggungjawab seluruh masyarat kota Medan termasuk juga guru di sekolah dan orangtua di rumah. Karena sosialisasi tentang bahaya narkoba yang lebih sering dilakukan, akan mempengaruhi banyak orang untuk menjauhi narkoba. 

"Narkoba adalah musuh kita bersama, sehingga secara bersama-sama kita harus menjauhkan saudara dan anak-anak kita dari bahaya narkoba. Lakukan sosialisasi sebanyak mungkin tentang bahaya narkoba, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa," jelas Hutabarat.

Untuk Kartu BPJS Kesehatan dan PBI kelas 3, Edward menjelaskan, bahwa PDI Perjuangan sampai saat ini sudah membagikan kartu BPJS Kesehatan kepada warga Jalan Jangka dan Kota Medan mencapai ribuan kartu. "Untuk Kartu BPJS Kesehatan dan Kartu PBI yang kelas 3, silahkan datang kekantor saya yang juga rumah saya sendiri sertiap hari Minggu dari pukul 15.00 WIB s/d 18.00 WIB.

Edward juga menghimbau kepada warga yang datang ke reses-2 nya agar tidak lupa menuliskan keluhan dan usulan pada kertas aspirasi yang telah disediakan panitia reses. *AG

Share it:

Medan

Wakil Rakyat

Post A Comment:

0 comments: