Warga Gang Masjid Minta Tembok Pembatas Dibongkar

Share it:


Teks Foto : Gang Masjid Jalan Durung yang semakin menyempit akibat adanya bangunan tembok di atas tanah fasilitas umum (fasum). *hariancentral.com-Ist

Medan-hariancentral.com : Warga Jalan Durung Gang Mesjid, Kelurahan Sudirejo, Kec Medan Tembung meminta agar tembok pembatas di Gang Masjid segera dibongkar.

Pasalnya, Indra Sakti Harahap pemilik ruko di depan Gang Masjid membangun tembok pembatas diatas tanah jalan yang telah diperuntukkan untuk akses warga komplek Durung Residen, yang terletak di belakang ruko milik Indra.

Tak hanya itu, parahnya lagi, ulah Indra ini membuat Gang Masjid milik Pemko menjadi sempit dan kenderaan bermotor atau roda empat yang melintas menjadi sulit.

Persoalan ini dikemukakan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi D DPRD Medan, Senin (29/1).

Fifianti, warga Gang Mesjid menyebutkan, pihaknya sudah melaporkan persoalan penembokan jalan yang dilakukan Indra pada pihak Kelurahan. Permasalahan itu juga sudah ditindaklanjuti dengan melakukan rapat memanggil warga termasuk Indra.

“Tapi dua kali pertemuan, pak Indra selaku pemilik ruko tidak hadir. Jalan itu kan fasilitas umum (fasum), apa haknya (Indra) menemboknya dengan alasan sebagai pembatas tanahnya. Itu bukan tanahnya, tapi milik pemerintah,” ujar Fifianti.

Ucapan warga ini juga diperkuat oleh pihak Kelurahan yang menyatakan jalan yang ditembok tersebut merupakan milik pemerintah.

Lanjut Fifianti lagi, sebelum penembokan terjadi, parit di jalan tersebut dibuka oleh Indra. Sehingga mobil warga yang melintas sering kebablasan masuk parit. Akhirnya warga sekitar komplek di belakang ruko tersebut berinsiatif menutup parit agar lalu lalang kenderaan tidak terganggu.

Tak nyana persoalan semakin runyam. Indra malah menembok jalan sehingga lebar jalan yang semula 6 meter jadi 3 meter karena separuhnya ditembok.

“Saya mengambil rumah di komplek itu karena ada fasumnya. Jika tak ada fasumnya buat apa saya tinggal disitu,” keluh Fifi yang telah 5 tahun tinggal di kawasan itu.

Dalam RDP yang dipimpin Salman Alfarisi, Sekretaris Komisi D, Indra beralasan menembok jalan agar ada pembatas antara tanahnya dengan tanah pemerintah.

“Seharusnya developer menyediakan fasum sendiri, bukan tanah pemerintah yang dijadikan fasumnya,” bilang Indra seraya juga beralasan menembok jalan karena sudah beberapa kali terjadi aksi pencurian di seputaran rukonya.

“Warga sudah dibohongi oleh pihak developer yang sudah mengklaim tanah pemerintah untuk fasum komplek,” ujar Indra.

Meski RDP sempat dihentikan sebentar, agar warga dan Indra berembuk di salah satu ruangan di Komisi D DPRD Medan guna memperoleh win-win solution, namun ternyata tak menghasilkan apapun.

RDP yang dihadiri sejumlah anggota dewan diantaranya Parlaungan Simangunsong, Godfried Lubis, Sahat Simbolon, Ahmad Arief dan lainnya, memutuskan akan menggelar rapat lanjutan di awal Februari nanti dengan memanggil pihak pengembang. *AG



Share it:

Medan

Wakil Rakyat

Post A Comment:

0 comments: