Satpol PP Pemko Medan Ancam Bongkar Warkop Jalan Kartini, Pedagang : Kami Bayar Rp7 Juta/Bulan

Share it:
TEKS FOTO: Warung Jurnalis yang akan dibongkar petugas Satpol PP Medan. *hariancentral.com-Ist

MEDAN-hariancentral.com: Kelurahan Madras Hulu, Kecamatan Medan Polonia mengeluarkan surat pemberitahuan akan dilakukan penggusuran kepada sejumlah warung kopi (warkop) di sepanjang Jalan Kartini Medan, Senin (15/10) lalu.

Tiga hari kemudian, surat perintah penggusuran dikeluarkan Kepala Satpol PP Medan M Sofyan dan diberikan anggota Satpol PP kepada para pedagang.

Mengetahui tempat cari makannya akan digusur, 17 pedagang meradang. Mereka bilang, setiap pedagang memberi upeti kepada Kepala Lingkungan (Kepling) setempat sebesar Rp200.000 sampai Rp250.000 tiap bulan.

“Tiap bulan kami bayar Rp250.000, kali 17 pedagang, Rp7 juta juga sebulan,” kata Adek, pemilik warkop yang sering jadi tongkrongannya wartawan unit kantor Gubernur, Kamis (19/10).

Katanya, para pedagang setuju jika memang penertiban untuk keindahan dan penataan kota. Tapi beberapa poin dalam surat penggusuran terkesan mengintimidasi dan sarat kepentingan.
“Untuk keindahan, ketertiban dan penataan kota, kami sebagai pedagang mendukung. Tapi jangan main gusur karena mengganggu hak hidup kami sebagai warga negara Indonesia,” ucap Adek yang diamini Dody.

Menurutnya, sah-sah saja ada penataan namun jangan ada intimidasi agar pindah. Seperti yang dilakukan Kepling di Kelurahan Madras Hulu, Asok David. Asok mengatakan, semua harus dibongkar sesuai perintah Walikota Medan dan Satpol PP.

“Kantor Gubernur ini tak ada apa-apanya, ini wilayah Pemko Medan. Biar tau klen ya, aku ini anak mainnya Lurah Madras Hulu Laode Muh Iqbal. Delapan Kepling disini, akulah anak mainnya, biar tau kalian,” kata Dody menirukan ucapan Asok.

Lanjut Dody, kawasan tempatnya berjualan bukan wilayah Asok yang arogan itu. Tapi karena dia memang anak mainnya Lurah, makanya bisa dia mengintimidasi pedagang di Jalan Kartini.

Menanggapi kejadian ini, Presidium Medan Jurnalis Club yang merupakan gabungan wartawan berbagai media melakukan protes. Diwakili M Nanda Octavian, mereka menyayangkan sikap Lurah Madras Hulu yang terkesan kasar.

“Lurah tak harus mengirimkan orang untuk mengintervensi pedagang bahwa warkop mereka akan dibongkar paksa. Pedagang di sini bukan setahun atau dua tahun berdagang, setidaknya ada langkah pembinaan yang lebih santun yang dilakukan pihak Kelurahan. Kalau bicara penataan, kita senang dan bangga. Tapi dilihat dari surat yang dilayangkan, ada kesan memberikan ketidaknyamana terhadap pedagang,” ujar Nanda.

Kalau dibilang pedagang punya salah, dia tak menampiknya. Namun masih banyak bangunan yang menyalahi aturan di Kota Medan. Apalagi Kelurahan Madras Hulu, banyak yang harus dibenahi Lurah.


Jelas lebih bermanfaat dan berdampak bagi sesama warganya. Contohnya parkir di seputaran Jalan Cik Ditiro yang sangat mengganggu warga yang melintas.
“Kita tidak ingin menguji, hanya menyarankan Lurah menegur petugas parkir dan menyampaikan berapa PAD yang dihasilkan,” tegasnya.

Di tempat berbeda, Direktur Eksekutif Sumut Institute Osril Limbong menduga Lurah dan antek-anteknya akan menggusur pedagang lama lalu menjadikan areal tersebut ajang bisnis untuk diperjualbelikan dengan pihak lain.

“Jangan mengintimidasi dan menakut-nakuti pedagang. Masih banyak warga yang perlu diurus, yang belum punya KK dan KTP. Lurah harus bijaksana supaya tidak mengganggu kenyamanan pedagang,” kata Limbong.

Sebelumnya diberitakan, Lurah Madras Hulu Laode Muh Iqbal menyurati para pedagang di Jalan RA Kartini agar melakukan pembongkaran kiosnya. Surat dengan tembusan kepada Walikota Medan, Satpol PP, Camat Medan Polonia, disusul dengan surat peringatan ketiga yang ditandatangani Kepala Satpol PP Medan, Sofyan.

Saat dikonfirmasi, Sofyan membantah surat tersebut. “Memang ada saya dengar, tapi bukan penggusuran. Kalaupun penataan kita tidak mau langsung bongkar,” ujarnya melalui massenger via Whatssap.

Sayang, begitu surat yang ditandatanganinya sampai ke tangan pedagang Kamis (19/10), ponselnya sudah tidak aktif lagi. *CHA

Share it:

Ekonomi

Medan

Post A Comment:

0 comments: