Skip to main content

Prof Mat Matthew Frank : Media Massa Harus Berperan Menjaga Lingkungan

TEKS FOTO: WAKIL Rektor III UMSU Dr Rudianto MSi (kanan) didampingi Sekretaris Prodi Magister Ilmu Komunikasi Rahmanita Ginting PhD (kiri) memberikan cenderamata kepada Prof Matthew Frank dan Pelaksana Tugas Wakil Konjen AS di Medan Maxwell S Harrington seusai Seminar Internasional, di Aula Pascasarjana Jalan Denai Medan. *hariancentral.com-Ist

MEDAN-hariancentral.com: Masalah lingkungan harus menjadi isu utama di media massa.Untuk itu jurnalis wajib melaporkan kerusakan lingkungan di daerah sekitar kita secara objektif dan mengutamakan kebenaran intelektual. Hal itu dikatakan dosen Universitas Montana, AmerikaSerikat, Prof Matthew Frank saat menjadi narasumber pada Seminar Internasional bertajuk "Environmental Journalism and Urban Disaster" yang digelar Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) bekerjasama dengan Konjen AS, di Aula Pascasarjana Jalan Denai Medan, baru-baru ini.

Acara ini dibuka Rektor UMSU Dr Agussani MAP diwakili WR III Dr Rudianto MSi dan dihadiri Pelaksana Tugas Wakil Konjen AS di Medan Maxwell S Harrington, Sekretaris Prodi Magister Ilmu Komunikasi Rahmanita Ginting PhD, Ikatan Alumni dan Mahasiswa Magister Ilmu komunikasi UMSU, mahasiswa komunikasi se-Sumur, pers mahasiswa, jurnalis media cetak/elektronik serta organisasi profesi wartawan.

Prof Matthew Frank menjelaskan, agar laporan lingkungan menarik untuk dibaca khalayak, maka jurnalis harus mengawali tulisannya dengan cara turun langsung ke lapangan, bukan menunggu di belakang meja.

Selain itu laporan dikemas dengan mengedepankan pengalaman agar menyentuh sisi insani. "Media massa harus berperan dalam menjaga lingkungan.Saya mengajak jurnalis di Indonesia terus menggerakkan jurnalisme lingkungan agar masyarakat dapat pemahaman tentang lingkungan dan berpartisipasi dalam mengambil keputusan," kata akademisi yang juga jurnalis ini.

Frank mengapresiasi atas kerja keras jurnalis di Indonesia yang terus melaporkan isu lingkungan dengan berbagai kendala. Dia menyadari jurnalis lingkungan menghadapi kendala dalam melaporkan gagasan yang independen karena media lebih mengutamakan sisi komersial.

Frank yang menjadi pembicara utama dalam acara yang dimoderatori Rahmanita Ginting menegaskan, perlu kehadiran banyak media independen seperti di Amerika untuk mengatasi masalah lingkungan. Di Amerika, kata Frank, masalah serupa juga dialami sejumlah media lokal. Namun banyaknya media independen di AS dan juga tingginya tingkat kepedulian warga setempat terhadap isu-isu lingkungan membuat isu-isu lingkungan sulit dikendalikan pemilik modal.

Frank mengatakan jurnalis punya kewajiban untuk membuat tulisan yang bisa menggugah sekaligus meningkatkan kepedulian pembaca terhadap isu-isu lingkungan. Dalam hal ini, untuk membuat tulisan menarik soal lingkungan, Frank menyarankan jurnalis untuk mengambil sudut pandang humanis.

Bagi Frank, kisah tentang orang akan menghasilkan resonansi yang kuat terhadap audiensnya. Misalnya, soal polusi laut, jurnalis bisa membuat kisah soal nelayan yang terkena imbas masalah tersebut. Frank menyarankan jurnalis untuk mengkaitkan tulisan soal lingkungan dengan topik kesehatan, perumahan, transportasi, gaya hidup, makanan serta teknologi. Topik-topik itu memiliki sebab akibat dari masalah lingkungan.

“Dengan demikian definisi jurnalisme lingkungan itu, sangat luas. Jurnalis dapat mengeksplorasi beragam topik untuk meningkatkan kesadaran warga pada lingkungan hidup,” urainya.

Wakil Rektor III Dr Rudianto MSi dalam pengantar diskusi mengatakan, masalah lingkungan masih isu kelas dua dibandingkan dengan isu politik. Namun dalam hal ini jurnalis tidak bisa disalahkan karena media mengambil peran yang sama. “Media bekerja tidak berdiri sendiri dalam mengelola informasi termasuk masalah-masalah lingkungan. Didalamnya ada faktor jurnalis, ideologi dan pemilik modal sampai faktor eksternal media,” kata Rudianto.

Rudianto berharap seminar internasional ini dapat memotivasi jurnalis dan media massa mengambil peran lebih kuat dalam menggerakkan jurnalisme lingkungan. Begitu juga bagi orang komunikasi, perspektif komunikasi lingkungan menjadi "makanan" dalam aktivitas keilmuan dan riset. *PUL

Comments

Popular posts from this blog

PERMASALAHAN YANG ADA DI DANAU TOBA

Danau toba | 
hariancentral.com Apa latar belakang orang mau ke Danau Toba ? tentu saja adalah pemandangannya  , airnya yang biru dan  objek-objek wisata yang ada di danau toba dan hal yang bersifat artifisual. Artinya artifisual adalah yang dibuat manusia sesuai dengan perkembangan zamannya, itulah sebabnya orang mau tertarik datang ke danau toba.
Jika melihat danau toba orang akan takjub karena keunikannya, berada 903,5m diatas permukaan laut. Danau toba adalah sebuah danau tektonik-vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer lebar 30 kilometer terletak di provinsi Sumatera Utara, yang merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara ditengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama pulau Samosir, itu merupakan suatu gambaran yang membuat danau toba bagus, airnya begitu jernih, dulu kala jika orang penduduk setempat tidak tubo atau tidak sarapan pagi cukup dengan mangura air. Mangura air adalah air  danau toba itu diambil ke kaleng, kemudian diberi garam cabe dan asam…

Papan Reklame Liar Menjamur di Kota Medan, DPRD Desak Walikota Copot Syampurno Pohan

TEKS FOTO: Drs Heri Zulkarnaen MSi. *hariancentral.com-Ist
MEDAN-hariancentral.com: Masih berdirinya papan reklame di 13 titik ruas jalan di Kota Medan, menunjukkan ketidakseriusan Kepala Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Penataan Ruang (DPKPPR) Kota Medan Syampurno Pohan untuk melakukan penertiban.
Papan reklame dan baliho masih terpampang di Jalan Sudirman, Jalan Pangeran Diponegoro termasuk Jalan Imam Bonjol Medan. Seolah Syampurno Pohan melakukan pembiaran.
Anggaran dana Rp900 juta sudah dipergunakan dari Rp2,8 miliar yang diambil dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) TA 2016 Kota Medan, dinilai berbagai kalangan merupakan pemborosan anggaran yang dilakukan, namun tidak menghasilkan yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat Medan.
Menanggapi hal itu, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Kota Medan Drs Herri Zulkarnaen Hutajulu MSi kepada hariancentral.com di ruang kerjanya, Selasa (30/5) mengatakan, pihaknya meminta pertanggungjawaban dari Syampuno Pohan selaku Kepala Dina…

Pelantikan Pejabat Eselon di Tobasa Dimulai

TOBASA, hariancentral.com: Setelah memenuhi syarat untuk melakukan pelantikan dan pengangkatan pejabat seperti tertuang dalam UU No 5 tahun 2014 tentang larangan 6 (enam) bulan Kepala Daerah setelah menjabat tidak dapat melakukan pelantikan atau pengangkatan pejabat, kini lonceng pelantikan dimulai di Tobasa.
Bupati Toba Samosir (Tobasa) yang diwakili Sekda Drs Audy Murphy Sitorus SH MHum, baru-baru ini di Balai Data Kantor Bupati,melantik dan mengambil sumpah 2 (dua) pejabat eselon III di lingkungan Pemerintah Kabupaten.
Kedua pejabat yang dilantik Bupati Tobasa itu,masing-masing Marlin Marpaung sebagai Kepala Bidang Teknologi Pangan & Holtikultura dan Lintong Sitorus sebagai Kepala Bidang Peternakan.
Kedua pejabat yang dilantik itu,untuk mengisi jabatan yang kosong,salah satu jabatan karena pejabatnya ditahan terkait kasus korupsi dan lainnya karena pejabat tersebut mengundurkan diri.
Saat itu juga, Bupati menyerahkan surat Pelaksana Tugas (Plt) jabatan Kepala Dinas kepada Kepal…