TEKS FOTO: Salah seorang saksi memberi keterangan di persidangan perkara OTT TKBM Belawan. *hariancentral.com-Ist

MEDAN-hariancentral.com: Pengadilan Negeri (PN) Medan menggelar sidang lanjutan Operasi Tangkap Tangan (OTT) Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Upaya Karya Pelabuhan Belawan, yang sebelumnya sidang sempat digelar PN Labuhan, Selasa (4/4).

Dalam persidangan tersebut, tampak tiga saksi yang dihadirkan, dari PT Pelindo, Joni Utama, Kepala Keuangan TKBM Upaya Karya Pelabuhan Belawan, Angkasa Nababan, dan Kasir TKBM Upaya Karya Pelabuhan Belawan, Safrizal.

Saksi tersebut dihadirkan untuk memberikan keterangan terhadap ketiga terdakwa masing-masing Ketua Koperasi TKBM Upaya Karya Belawan, Mafrizal, Sekretaris TKBM Upaya Karya, Sabam Parulian Manalu dan Bendahara Primkop TKBM Upaya Karya Pelabuhan Belawan, Frans Sitanggang.

Pada persidangan tersebut, tampak ketiga saksi terlihat santai dalam persidangan. Bahkan majelis hakim sempat menegur pihak Kejaksaan agar menghadirkan saksi yang mengetahui permasalahan TKBM tersebut.

“Tolonglah buat para Jaksa, hadirkan saksi yang mengetahui masalah yang disidangkan, ini bukan main-main,” ungkap Ketua Majelis Hakim, Jamperson Sinaga.

Dalam persidangan yang berlangsung, salah satu saksi Safrizal yang merupakan kasir di TKBM mengakui, semua pembayaran atau pencairan harus ditandatangani dua dari tiga pengurus TKBM Upaya Karya Pelabuhan Belawan.

“Pembayaran harus ada tanda tangan setidaknya dua dari tiga pengurus TKBM. Untuk gaji Ketua dan Sekretaris perbulannya dapat Rp 10 juta, sedangkan Bendahara Rp9 Juta. Belum lagi tunjangan lainnya,” jelas Syafrizal memberikan kesaksian.

Namun mengenai operasional masalah TKBM, dirinya tidak banyak tahu sebab ia hanya mengurusi masalah keuangan. Usai mendengarkan kesaksian ketiganya, maka majelis menunda persidangan hingga pekan depan.

Dikenakan Pasal TPPU

Sementara itu, JPU Ruji yang dikonfirmasikan usai persidangan mengatakan akibat perbuatan ketiga terdakwa, korban Aulia Rahman selaku pemilik PBM PT Aulia Abadi dan PBM Usaha Bongkar Muat (UBM) mengalami kerugian sebesar Rp15 miliar.

“Adapun rinciannya PBM PT Aulia Abadi mengalamai kerugian sebesar Rp10 miliar dan PBM UBM mengalami kerugian sebesar Rp5 miliar,” jelas Ruji

Menurut JPU, ketiga terdakwa secara bersama-sama sejak Juni 2014 sampai Oktober 2016 lalu, melakukan perbuatan kejahatan untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan.

Saat melaksanakan aktifitas bongkar muat mobil, lantaran PT Aulia Abadi diminta oleh para terdakwa untuk membayar panjar sebesar 75 persen dari total biaya bongkar muat dan pihak UBM juga diminta untuk melakukan hal yang sama saat akan melakukan aktifitas di dermaga.

Ketiganya dikenakan melanggar pasal 378 KUH Pidana dan UURI Nomor 8/2010 tentang pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TTPU). *RED



Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: