Ditangkap Kasus Begal, Disidangkan Kasus Narkoba

Share it:



TEKS FOTO: Joni Ginting kecewa anaknya Prananda dan dua temannya disidangkan dalam kasus narkoba. Sementara terdakwa didampingi penasehat hukumnya memperhatikan barang bukti yang diperlihatkan Majelis Hakim. *hariancentral.com-Syamsul Bahri Star.

PANCURBATU-hariancentral.com: Sepertinya tidak habis pikir karena terbilang aneh dengan tindakan yang dilakukan petugas Reskrim Polsek Delitua ini. Pasalnya, semula mereka melakukan penangkapan terhadap tiga pria dari tempat terpisah, terkait kasus begal. Namun karena tak terbukti dengan kasus begal, polisi merubahnya dengan kasus narkoba jenis sabu-sabu.

Anehnya lagi, beberapa hari kemudian, meski petugas telah melakukan tes urine terhadap ketiga pria tersebut, ternyata hasilnya negatif. Namun demikian, pihak Polsek Delitua tetap ngotot kalau ketiganya disangkakan dengan kasus terlibat penggunaan narkoba jenis sabu-sabu.

Parahnya lagi, walapun saat penggrebekan terhadap ketiga pria itu tidak ditemukan barang bukti, tapi pihak kepolisian tetap melimpahkan berkas perkara ketiganya ke Kejaksaan, dengan menyerahkan barang bukti sabu-sabu seberat 0,10 gram, kaca pirex dan satu buah alat hisap sabu-sabu (bong).

Sekitar empat bulan kemudian, kasusnya pun mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam yang bersidang di Pancurbatu. Dalam sidang yang dipimpin Majelis Hakim diketuai Edward Sihombing, SH MH beranggotakan Abraham Ginting, SH dan Angga Manalu, SH Rabu (5/4/2017), Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sarimonang Beny Sinaga SH mendakwa ketiga terdakwa melakukan perbuatan sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 114 ayat (1) jo pasal 132 ayat (1) UU RI No 35 tahun 2009 tentang narkotika bukan tanaman.

Dalam sidang tersebut, JPU menghadapkan tiga terdakwa, masing-masing Prananda Ginting (25) warga Jalan Jamin Ginting Gang Bunga Malem VII, Gang GBKP, Kelurahan Lau Cih, Kecamatan Medan Tuntungan, Rhio Hendra Heriawan Ginting (19) warga Gang Bunga Malem VI, Gang STII, Kelurahan Lau Cih, dan Zulkifli Kaban (20) warga Gang Bunga Malem IX, Kelurahan Lau Cih Medan Tuntungan.

Terungkap di persidangan berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP) pihak Polsek Delitua,  terdakwa ditangkap Polsek Delitua pada Sabtu  3 Desember 2016 sekira pukul 16.30 WIB ketika terdakwa berada di rumah terdakwa Rhio Hendra Heriawan. Sewaktu ketiganya berada di rumah Rhio datang Adul untuk mengambil HP nya yang telah terdakwa Rhio gadai sebelumnya kepada orang lain, sambil memberikan uang Rp50 ribu kepada terdakwa Rhio.

Lalu, terdakwa Zulkifli Kaban mengatakan kepada Adul, HP sudah tak bisa diambil lagi. Selanjutnya Adul pergi dari rumah terdakwa Rhio, dan pada saat itu, para terdakwa sepakat untuk membeli sabu-sabu dengan menggunakan uang Rp50 ribu tersebut. Terdakwa Zulkifli dan terdakwa Prananda Ginting pergi ke Ladang Bambu untuk membeli sabu-sabu paket Rp50 ribu kepada Ian Tato (DPO), sedangkan terdakwa  Rhio tinggal di rumah.

Sesampainya terdakwa Zulkifli dan terdakwa Prananda di Ladang Bambu, terdakwa Prananda turun dari sepedamotor lalu menemui Ian Tato untuk membeli Sabu, sedangkan terdakwa Zulkifli tetap berada di atas sepedamotor.

Setelah membeli sabu, terdakwa Zulkifli dan Prananda kembali ke rumah Rhio. Mereka kemudian secara bersama-sama menghisap sabu-sabu di ruang tamu secara bergantian. Sekira pukul 21 datang saksi H Situmorang, Natal Sitorus, Ralin Gajah, dan Bernard Simarmata yang merupakan anggota Polsek Delitua menangkap terdakwa Rhio dan terdakwa Zulkifli. Dari samping lemari pakaian, petugas menemukan sisa sabu-sabu melekat di kaca pirex bong.

Kepada saksi H Situmorang Cs, terdakwa Rhio dan Zulkifli mengakui selain mereka, juga Prananda ikut bersepakat membeli sabu-sabu tersebut kepada Ian Tato. Pukul 22.30 WIB, Prananda ditangkap di kediamannya.

Joni Ginting selaku orang tua terdakwa Prananda Ginting yang ditemui seusai persidangan mengaku, kalau penangkapan terhadap anaknya serta kedua temannya terkesan dipaksakan, dan tidak ada dasar hukumnya.

“Apa dasar pihak Polsek Delitua menangkap anak saya, termasuk kedua temannya itu. Bayangkan saja, semula mereka dituduh melakukan aksi begal, belakangan karena tak terbukti dengan kasus begal, malah dituduh pesta narkotika jenis sabu-sabu. Anehnya,  saat penggrebekan pihak kepolisian tidak mendapatkan barang bukti sabu-sabu, tapi beberapa hari kemudian disebutkan kalau barang bukti ada ditemukan dari kediaman Rhio,” ujar Joni Ginting. 

Masih Joni mengatakan, begitu juga ketika dilakukan tes urin terhadap anaknya dan kedua temannya, dinyatakan negatif. Sebenarnya, kata Joni, polisi terlebih dahulu menangkap Prananda Ginting, lalu meringkus Rhio dan Zulkifli di kediaman Rhio.

“Awalnya polisi menangkap anak saya (Prananda) di rumah saya. Dan ketika ditanyakan kepada anak saya dimana rumah Rhio, anak saya pun memberitahukannya, sesaat kemudian polisi pun menangkap Rhio dan Zulkifli,” sebutnya.

Dikatakan Joni lagi, saat Prananda ditangkap polisi kondisinya masih sehat. Namun, setelah diamankan polisi, di tubuh anaknya itu ada bekas penganiayaan.

Sementara itu Penasehat Hukum terdakwa, Suplinta Ginting SH, Suranta Ramses Tarigan SH, dan Frengki Bukit SH mengatakan, kasus yang disangkakan kepada terdakwa awalnya begal. Setelah dilakukan rekon ketiganya tidak terbukti terlibat.

Jadi karena tidak terbukti ketiganya disangkakan pengguna narkotika dan diajukan ke pengadilan. “Itu sebagai dalil kepolisian untuk memuncul akan alibi baru karena para terdakwa ini tidak terbukti pelaku begal. Klien kami itu bukan sebagai pengguna narkoba seperti yang didakwakan oleh JPU,” ujar mereka senada. *STAR-UBR




Share it:

daerah

Hukum

Narkoba

NEWS

Post A Comment:

0 comments:

Iklan Layanan Masyarakat

Medan-Hariancentral.com: