TEKS FOTO: Kantor BPN Tebing Tinggi dituding persulit warga dalam pengurusan sertifikat. *hariancentral.com-Ist
 
TEBING TINGGI-hariancentral.com:  Sejumlah warga kecewa terhadap Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Tebingtinggi yang dinilai mempersulit dalam pengurusan sertifikat tanah. Sejak tahun 2009 BPN dituding kerap mempersulit urusan masyarakat dalam hal memperoleh layanan.

Kekecewaan warga tersebut disampaikan Yan Riswan dan Zul warga Lingkungan II Jalan Sofyan Zakarya Kelurahan Tebingtinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebingtinggi. Dia mengatakan sejak tahun 2009 lalu, dirinya mengurus sertifikat tanah di kantor BPN kota Tebingtinggi, namun hingga tahun 2017 sekarang surat Sertifikat tanah yang dimohonkan, Alhamdulillah dan mudah-mudahan hingga kini tak kunjung selesai.

Padahal menurutnya semua berkas-berkas persyaratan sudah dilengkapi bahkan biaya pengurusanya pun sudah diserahkan kepada pihak pegawai BPN Tebingtinggi (sudah meninggal dunia), tapi hingga saat ini Sertifikat tanah yang diharapkannya belum juga diterbitkan.

Yan Riswan menjelaskan, pada tahun 2009 lalu dirinya bermaksud mempronakan Akta Peralihan Hak dengan Ganti Rugi Nomor : 5922/20/PHR/1992 tanggal 24 Februari 1992 atas nama : Yan Riswan melalui Kelurahan Tebingtinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebingtinggi melalui seorang pegawai BPN Tebingtinggi bernama Rusdianto.

 “Tidak berapa lama setelah saya menyerahkan semua berkas-berkas berikut biaya pengurusan ‘Prona’ di kantor BPN tersebut, namun ternyata pada tahun 2009 pegawai BPN Rusdianto meninggal dunia, sejak saat itu sampai sekarang saya tidak mengetahui bagaimana kelanjutan status Sertifikat itu," katanya.
 
Setelah itu Yan Riswan kembali mengulangi mengajukan Akta Peralihan Hak dengan Ganti Rugi ke Kantor BPN Kota Tebingtinggi untuk mendapatkan Sertifikat Hak Milik dengan memenuhi semua persyaratan berupa, copy KTP, Kartu Keluarga (KK), lunas PBB tahun 2016 serta copy akta peralihan hak dengan ganti rugi semuanya rangkap empat.

 “Dalam beberapa hari setelah memasukkan berkas, tanah itu diukur oleh pegawai BPN Tebingtinggi pada tanggal 23 Februari 2017 dirinya datang ke Kantor BPN, oleh pegawai BPN dinyatakan bahwa gambar peta dan berkasnya sudah siap. Tapi berkas yang pernah dimohonkan ke BPN tahun 2009 melalui Almarhum Rusdianto ternyata sudah (terbit), pihak Pegawai BPN menyebutkan surat sertifikat yang sudah terbit itu akan dicari di gudang,”nanti akan dihubungi lagi”, tanpa memberitahukan batas waktu," papar Yan Riswan kesal.

 Kemudian pada tanggal 28 Februari 2017, Yan Riswan kembali mendatangi Kantor BPN dan dilayani oleh pegawai BPN bernama Harry dan Tommy Rm. “Akhirnya diketahui bahwa gambar peta dan berkas yang dimohonkan pada tahun 2009 lalu sudah selesai dengan Nomor Hak Milik 1275 Tahun 2009, tapi ternyata Sertifikat tersebut belum diteken oleh Kepala BPN Tebingtinggi yang saat itu dijabat oleh Jayanto karena di tahun 2011 beliau sudah pensiun," ungkap Riswan. *RED




Share To:

Harian Central

Post A Comment:

0 comments so far,add yours