MEDANhariancentral.com: Tim jaksa peneliti Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) kembalikan berkas enam tersangka kasus dugaan korupsi manipulasi voucher Bahan Bakar Minyak (BBM) sejak 2014 untuk truk sampah di Kota Medan kurang lebih Rp18 miliar.

Keenam tersangka merupakan staf Dinas Keberihan Kota Medan masing-masing berinisial HF (Kabid Operasional Dinas Kebersihan Kota Medan), AS (PNS Dinas Kebersihan Kota Medan), HSP (tenaga harian lepas sebagai sopir truk pengangkut sampah).

Kemudian, MKHH (tenaga harian lepas sebagai pembagi voucer BBM truk), MI (tenaga harian lepas di tempat pembuangan sampah), dan SW (karyawan SPBU Pinang Baris yang menukarkan voucer BBM dengan uang).

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejati Sumut, Sumanggar Siagian melalui Kasubsi Penkum, Yos Gernold Tarigan, Rabu (11/1) mengatakan, berkas perkara para tersangka masih belum lengkap (P19).
Makanya, tim jaksa peneliti mengembalikannya ke penyidik Polda Sumut.

“Sudah kita kembalikan berkas para tersangka, karena belum lengkap. Jaksa peneliti sudah memberikan beberapa petunjuk untuk lengkapi tim penyidik Polda Sumut,” terangnya.

Dikatakan Yos, setelah dikembalikannya berkas, jaksa peneliti menunggu pelimpahan dari penyidik Polda Sumut. “Kita menunggu berkas yang harus dilengkapi penyidik Polda Sumut,” terangnya.

Disinggung, apakah, ada dalam berkas itu keterlibatan Kepala Dinas Kebersihan Kota Medan, Endar Sutan Lubis. Yos tidak bisa menjawabnya. “Hal itu tanya ke penyidik Polda Sumut. Karena mereka yang
menanganinya,” sebutnya.

Jatah Truk Sampah 25 Liter

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan, kerugian dugaan korupsi bahan bakar minyak (BBM) solar untuk truk sampah di Kota Medan, berlangsung sejak 2014. Kerugian negara akibat tindak pidana tersebut mencapai kurang lebih Rp18 miliar.

Dugaan tindak pidana korupsi itu terjadi di Dinas Kebersihan Kota Medan. Enam tersangka ditetapkan sebagai tersangka dalam tindak pidana itu. Jika dihitung uang yang dikorupsi mencapai Rp16.562.500 per hari.

Rina mengatakan, truk pengangkut sampah milik Pemko Medan berjumlah 220 unit. Dalam sehari, satu truk mengangkut dua kali sampah menuju tempat pembuangan akhir (TPA).

Jatah solar untuk satu unit truk yaitu 25 liter. Nyatanya, truk hanya beroperasi satu kali. Tapi di dokumen, surat keterangan pembuangan sampah distempel dua kali. Seolah-olah, truk mengangkut sampah dua kali dalam sehari.

Modusnya, tersangka MKHH memberikan uang tunai Rp100 ribu ke sopir truk setiap dua hari sekali. Seharusnya MKHH memberikan voucher BBM senilai 25 liter untuk setiap sopir.

Kemudian ia menukarkan voucher itu kepada tersangka SW, karyawan SPBU Pinang Baris. MKH lalu mewajibkan tiap sopir memberikan setoran sisa BBM kepada Kepala Seksi Operasional Dinas Kebersihan Pemko Medan, HF. “Pemberian dilakukan melalui AS,” terang Rina.

Selain empat orang itu, Polda Sumut juga menetapkan dua tersangka lain. Yaitu MI, petugas tempa  pembuangan akhir dan HSP, sopir truk.

Tim Saber Pungli Polda sumut melakukan operasi tangkap tangan (OTT) pada Kamis 17 November. OTT dilakukan di Kantpr Dinas Kebersihan Kota Medan di Jalan Pinang Baris dan Kantor TPA di Terjun Marelan.

Polisi juga mengamankan barang bukti berupa uang tunai Rp11,6 juta, 20 blok voucher BBM solar, surat perintah jalan (SPJ), stempel, dan catatan kutipan harian. Para tersangka melanggar Pasal 12 Huruf (e) UU No. 31 tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU No. 20 tahun 2001 Tentang Tindak Pidana Korupsi. *RED
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: