Kolom As Atmadi

Share it:
hariancentral.com:

 ‘Menggila’
                                                                                                              Oleh As Atmadi (Pemimpin Redaksi Harian Central)

PERMAINAN ‘kongkalikong’ tender proyek, pungli dan KKN sudah semakin parah di Negeri ini. Hasil penelitian beberapa waktu lalu, bahkan 86 persen proyek pemerintah dikorup. Sehingga menguntungkan pejabat, orang-orang yang bertanggungjawab dengan proyek bersama pengusaha (pemborong) hitam.

Kalau disebut di negeri ini, daerah ini (Sumut) yang digelar lumbung korupsi, kongkalikong proyek pemerintah termasuk di dalamnya. Dari proses lelang tender proyek, pengadaan barang dan jasa di pemerintahan ada KKN. Director Indonesia Procurement Watch (IPW) Hayie Muhammad menyebut 92 persen penyedia barang dan jasa atau pengusaha rekanan pemerintah pernah melakukan penyuapan dalam tender.
Rangsangan pemberian suap 72 persen berasal dari pejabat atau panitia pengadaan. Maka di lapangan, kecil kemungkinan bila penyedia konstruksi, konsultan, penyedia barang dan jasa pemerintah bisa memenangkan tender tanpa melakukan suap. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sudah mengakui, Sumatera Utara juaranya kongkalikong, persekongkolan ten­der vertikal dan horizontal.
Persekongkolan vertikal melibatkan pejabat publik (panitia tender) pengadaan barang atau jasa yang dibiayai APBN-APBD. Persekongko­lan horizontal terjadi antara pe­serta tender. Disini  Pengusaha paling sering melakukan pelang­garan (kongkalikong). Sehingga banyak pelaku bisnis yang memiliki kompetensi bagus, harus kalah karena di­jegal lawan bisnisnya dengan cara-cara busuk, kotor semakin ‘menggila’.

Pengusaha (rekanan) hitam, busuk tidak hanya terlibat dalam kong­kalikong pengaturan pemena­ngan tender, tapi juga turut me­ma­nipulasi harga barang atau ma­terial proyek di pasaran. Ada peralatan yang di­beli dengan harga Rp10 juta di­naik­kan menjadi Rp30 juta. Sehingga dari 50 ribu panitia tender (kalaupun ada) hanya 5 persen yang jujur. 

Jadi, kalau ada proyek gagal itu artinya adanya usaha tersembunyi dan bersekongkol menggerogoti dana APBD. Bagi-bagi proyek, memberikan proyek kepada rekanan yang sudah diatur. Bermain di antara fee 10 persen hingga 20 persen dari nilai proyek. Bayangkan, berapa pula uang Negara bocor dan masuk ke kantong-kantong para maling. Tidak seorang pun setakat ini berani menjamin kongkalikong  sudah lenyap bersama angin reformasi.

Percayalah, kalau mantan Kepala Dinas Distarukim Gunawan Surya Lubis dijebloskan ke penjara oleh Hakim, dugaan permainan proyek PU Deliserdang terbukti setelah diusut, itu fenomena gunung es. Di bawahnya diantara mereka masih beratus-ratus bahkan ribuan persekongkolan proyek bertahun-tahun berlangsung merugikan keuangan negara dan sangat merugikan rakyat.
Kapankah KPK mau lebih serius menukik membidik praktik suap-menyuap dalam tender pengadaan barang dan proyek tender yang nilai di atas Rp 40 miliar. Atau Satgas Saber Pungli mau segera melaksanakan amanah Perpres Jokowi menyikat pungli, suap, kongkalikong dalam pengadaan barang dan jasa yang sudah tidak bisa dianggap enteng dan dipandang sebelah mata di daerah ini. *RED
Share it:

Post A Comment:

0 comments: