Kolom As Atmadi

Share it:
hariancentral.com

Koruptor, Teroris
Oleh As Atmadi (Pemimpin Redaksi Harian Central)

 SATU kali, setelah terasa pedihnya kehidupan rakyat negeri ini akibat kekejaman kaum koruptor menghancurkan tatanan kehidupan bernegara, hancurnya ekonomi, mulai berteriak, koruptor lebih kejam dan sadis dari teroris. Dari perbuatan demi mementingkan keuntungan pribadi, anak dan istri serta keluarga, koruptor menghabiskan uang negara yang semestinya untuk kepentingan rakyat.

Korban (victim), rakyat menjadi korban keculasan penyelenggara yang tak mau tobat untuk korupsi. Rakyat benar-benar menjadi korban pelanggaran hukum, kejahatan luarbiasa bernama korupsi. Menderita sebagai akibat tindakan orang lain yang mencari pemenuhan diri sendiri yang bertentangan dengan hak asasi manusia (HAM).

Praktik haram (korup) terjadi hampir di seluruh lini kehidupan. Sekalipun pemberantasan korupsi menjadi salah satu agenda utama reformasi, faktanya praktik menyakitan bagi rakyat itu terus saja berlangsung silih berganti. Termasuk berbagai sarana pembangunan kota untuk kepentingan rakyat tidak luput dari perbuatan bengis para koruptor.

Dari lembaga eksekutif, yudikatif ada saja kongkalikong bagai lingkaran setan tak pernah mau padam. Malah korupsi berjamaah, sistematis, masif memainkan dana-dana pembangunan proyek sarana pelayanan pada kehidupan rakyat. Katakanlah pembangunan drainase, taman atau pembangunan terkait kepentingan publik lainnya, tak luput dari penyimpangan dan korup.

Praktik manipulasi biasanya dilakukan oleh pelaku birokrasi dalam struktur negara dengan pihak swasta. Menjadi benar kata  Lord Acton, power tends to corrupt, kekuasaan cenderung untuk diselewengkan. Apalagi didorong oleh sistem pengawasan yang masih longgar, elite birokrasi cenderung melahirkan jaringan praktik korupsi sangat kuat dipertontonkan kepada rakyat.

Hayo, sebaiknya disepakati koruptor adalah pelaku terorisme, yang harus dikutuk, dijatuhi hukuman terberat, hukuman mati. Sebab korban yang ditimbulkan oleh terorisme korup lebih besar daripada terorisme dengan cara meledakkan bom. Dari praktik terorisme korupsi, ratusan juta generasi tidak dapat menikmati pendidikan, tak terpenuhi sandang pangan yang eksesnya kebodohan.

Beranikah penegak hukum di Indonesia meniru gaya aparat hukum Afrika Selatan menyerbu rumah kediaman mantan Wakil Presiden Jacob Zuma, yang dipecat karena skandal korupsi. Mental penegakan keadilan seperti ini dibutuhkan membersihkan seluruh struktur pemerintahan dari penyelewengan. *RED 
Share it:

Post A Comment:

0 comments: