Jusri Tarigan Bunuh Jumadi Ginting

Share it:


PANCURBATU-hariancentral.com: Jusri Tarigan (28), warga Desa Kuta Bangun Kecamatan Tiga Binanga, Tanah Karo kini terpaksa merenungi perbuatannya di balik terali besi kamar tahanan Mapolsek Pancurbatu. Pasalnya, Jusri dengan nekat membantai Jumadi Ginting alias Uwin (30) warga Desa Perbesi II, Kecamatan Tiga Binanga, Tanah Karo yang terjadi Selasa (20/12/2016) pukul 07.00 WIB.
  
Hanya masalah gajinya sebagai supir dua di dump truk BB 9083 YA yang mereka kemudikan belum dibayar oleh korban. Sakit hati Jusri berujung dendam sehingga korban dihabisi  disaat tengah tertidur pulas di mobil truk yang dikemudikan Jusri.

Kanit Reskrim Polsek Pancurbatu Iptu Sehat Tarigan kepada wartawan, Kamis (22/12) sore menyatakan, tersangka nekat menghabisi nyawa korban karena sakit hati. “Tersangka merasa sakit hati karena gajinya selaku supir dua belum dibayarkan korban. Pembantaian dilakukan tersangka ketika korban dalam kondisi tidur. Atas perbuatannya ini, tersangka dijerat dengan pasal 365 KUHP tentang perampokan junto pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman seumur hidup,” kata Sehat Tarigan.
  
 Sementara itu, Jusri Tarigan mengakui perbuatannya menghabisi nyawa rekannya sesama supir pada truk yang sama yakni dump truk bernomor polisi BB 9083 YA. “Dia kubunuh karena aku sakit hati sebab gajiku belum diberikannya,” ujar Jusri.

Ketika ditanya penyebab dia sakit hati terhadap Jumadi, Jusri mengakui sebelum berangkat kerja dirinya sempat bertengkar dengan istrinya Darmayani br Lubis, karena saat pulang kerja dia tak ada membawa uang. “Aku sempat ribut sama istriku, karena aku tak bawa uang saat pulang. Ketika kuminta sama Uwin, dia bilang sabar dulu. Dibilang begitu aku jadi emosi,” terang Jusri Tarigan.

Jusri mengaku bahwa mereka sudah lama berteman. Bahkan saat berangkat kerja, Uwin selalu yang menjemputku ke rumah menggunakan truk yang kami bawa itu. Malam itu, memang aku sakit hati kali sama dia, sebab gara-gara dia aku dan istriku bertengkar karena tak kuberi uang belanja,” aku Jusri.

Jasad korban dari RS Bhayangkara Jalan KH Wahid Hasym Medan dibawa pulang ke kampungnya untuk dikebumikan. Sedangkan barang bukti yang diamankan polisi dari tersangka terdiri uang tunai Rp 1,6 juta, dompet, cincin emas dan kalung emas seberat 30 gram milik korban.
  
Pagi dihari naas itu, Jumadi Ginting bersama Jusri Tarigan datang dari arah Tanah Karo menuju Medan membawa batu dolomit. Karena kecapekan, korban Jumadi meminta kepada Jusri untuk mengganti mengemudikan mobil. Jusri pun mengambil alih stang stiur mobil. Selanjutnya korban tidur dibelakang jok mobil tersebut karena ngantuknya.  

Tapi begitu sampai di sekitar Stasiun Pengisian Bahanbakar Elpiji (SPBE) Desa Pertampilen, Jusri menghentikan mobil truk tersebut, lalu diambilnya gancu yang ada di mobil tersebut. Dengan gancu tersebut, Jusri memukul kepala korban. Namun akibat pukulan itu korban sempat terbangun dari tidurnya lalu coba memberi perlawanan. Jusri mengambil sebilah pisau yang sudah dibawanya dan menikam korban berulang kali hingga akhirnya tewas. Melihat korban tak bergerak lagi, Jusri menurunkannya dari mobil dan meletakkannya di parit dengan posisi terduduk persis di depan Varse, pabrik obat. Tersangka setelah membunuh korban, memutar balik truk yang dikemudikannya menuju arah Tanah Karo. Saat itu truk yang dikemudikan tersangka sempat menabrak tiang barak tempat usaha bengkel dan tempel ban milik Albert Tarigan (25) di Desa Pertampilen.
                                        
CURIGA KARENA PERCIKAN DARAH DI BAJU           

Terungkapnya perbuatan Jusri Tarigan membunuh temannya sesama supir truk akibat adanya percikan darah di bajunya. Berawal ketika itu saat Kebun Tarigan melihat dump truk yang dikemudikan tersangka menabrak bangunan tempat usaha bengkel dan tempel ban milik anaknya Albert Tarigan.

Kebun sempat menyuruh Albert mengejar supir truk tersebut minta pertanggungjawabannya. Merekapun kemudian mengejar truk tersebut dan berhasil mendapatkan truk itu. Disitulah pada baju tersangka dilihat Kebun dan Albert ada percikan darah. Ketika ditanyakannya, tersangka mengaku baru saja kena besi aspak ban, tapi lukanya tidak ada ditemukan sehingga bapak dan anak itu curiga terhadap tersangka. Sebelum melanjutkan perjalanannya menuju Tanah Karo, Albert sempat mencatat nomor polisi pada plat truk itu. 

Tapi ketika tersangka melanjutkan perjalananya, Kebun dan Albert melihat ada mayat di dalam parit ditutupi selimut. Saat ditemukan,  dua jari tangan sebelah kiri korban  putus,  leher belakang sebelah kiri, kuping dan kepala kiri, pergelangan tangan, dan pipi  kanan korban terdapat luka  bacok. Begitu juga pada bagian kening sebelah kanan, perut, serta  leher kanan bagian depan luka kena tusuk.
 
Berdasarkan keterangan saksi di lapangan, polisi melakukan pengejaran. Dua jam kemudian  petugas berhasil meringkus tersangka di Desa Doulu, Kecamatan Berastagi, Tanah Karo saat mengemudikan truk. Saat itu Jusri sempat menyangkal kalau dia pelaku yang membunuh Jumadi Ginting. Namun berkat kejelian petugas yang meyakini kalau Jusri Tarigan benar pelaku yang membunuh korban. 
 
Untuk pengusutan lebih lanjut, tersangka berikut truk Fuso diboyong ke Mapolsek Pancur Batuu. Dari tersangka petugas menyita uang Rp 1,6 juta pecahan seratus ribu, cincin dan kalung emas seberat 30 gram milik korban. Kapolsek Pancurbatu Kompol Frido Gultom mengatakan, hingga saat ini pelaku masih dilakukan pemeriksaan. Jenazah korban dibawa ke RS Bhayangkara Medan untuk dilakukan outopsi. *STR-UBR
Share it:

daerah

Kriminal

NEWS

Post A Comment:

0 comments: