Limbah Pembuangan Bolu Brownies Diduga Terindikasi Merusak Lingkungan

Share it:


MEDAN, hariancentral.com: Aparat pemerintah dan penegak hukum diminta agar menindak tegas terhadap pengusaha/owner Bolu Brownies Amanda yang berada di Jalan Abdullah Lubis Nomor 23 A Medan dalam kaitan adanya dugaan kuat mengenai pencemaran lingkungan dilokasi Pabrik/Pengelolaan Bolu Amanda di Pasar III Sunggal, Medan Sunggal, Kota Medan.

Pinggiran jalan umum berlumpur dan keluar aroma bau busuk. Pasalnya, berdasarkan hasil penelusuran kru media ini, lingkungan sekitar pabrik tersebut terlihat sangatlah kotor dan menjijikan yang diduga berasal dari sisa pembuangan air limbah pengelolaan Bolu Amanda, sehingga lingkungan tersebut dinailai tidaklah sehat dan sangat berbahaya terhadap kesehatan warga disekeliling lokasi pabrik.

Selain kotor, fasilitas jalan umum yang seyogiannya merupakan arus lalulintas kendaraan pun tampak rusak dan berair akibat luapan genangan air limbah yang mampet disaluran drainase yang berada persis didepan pabrik tersebut.

Pintu pembuangan kotoran yang mengarah keluar pabrik kena pinggiran badan jalan terlihat berlumpur dan berlumut akibat luapan genangan air limbah yang keluar. Tak hanya itu, situasi lokasi pun terlihat sangat menjijikan dan mengeluarkan bau yang tidak sedap dan dapat mengaruhi kesehatan masyarakat sekitar.

Bahkan sebagian warga yang berada diseputaran lokasi pabrik bolu Amanda itupun mengeluh mengenai bau busuk yang menyengat, ditambah dengan rusaknya lingkungan mereka, bahkan sampe ada yang mengatakan bahwa ada lokasi sumur yang dimiliki warga berubah warna akibat rembesan air limbah yang dikeluarkan dari pabrik tersebut.

Saat Investigasi, kru media patut menduga kuat dan mendasar bahwa lokasi Industri/Pabrik Produksi Bolu Amanda tidaklah dilengkapi dengan perizinan sebagaimana mestinya atau menyimpang dari peraturan.

Seperti yang dituangkan melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (UU Perindustrian).

Dimana adanya indikasi pengrusakan lingkungan serta dugaan tidak adanya izin AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) dan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), dimana dalam hal ini pelaku usaha dapat diberikan sanksi pidana yang mengacu pada Undang-undang Nomor 32 tahun 2009 yang terdiri dari 19 Pasal yakni Pasal 97 sampai dengan Pasal 115.

Menyikapi maraknya pemberitaan belakangan ini mengenai indikasi pengrusakan lingkungan diseputaran pabrik bolu Amanda, tim Manajemen bolu Amanda pun menggelar pertemuan dengan warga dan pers di Hotel Saka Jalan Gagak Hitam/Ringroad Medan.

Tim Manajemen Bolu Amanda yang menggelar pertemuan pers dan warga menyampaikan,
minta maaf kepada warga atas kesalahan yang telah mereka perbuat selama ini yang sudah berjalan selama kurun waktu kurang lebih 5 tahun, dan dalam waktu dekat ini pabrik tersebut akan direlokasi ketempat yang baru atau tak jauh dari lokasi Bandara Kualanamu.

“Kami tim menajemen meminta maaf atas ketidak nyamanan warga selama ini mengenai keberadaan pabrik kita, akhir 2016 ini kami sudah diperingatkan oleh pemerintah agar segera merelokasi pabrik tersebut ketempat yang baru dan kami sudah dapat tempat yang baru.

Mengenai segala kerusakan lingkungan yang ada kami akan segera memperbaikinya begitu lokasi pabrik dipindahkan, termasuk dengan melakukan penyedotan kotoran air yang berada di saluran drainase yang ada,” ujar Deni mewakili tim Manajemen Bolu Amanda.

Tim Manajemen Bolu Amanda juga terkesan buang badan dengan mengatakan bahwa kotoran air yang selama ini dibuang ke saluran drainase hanyalah merupakan campuran air hujan dan air kencing yang keluar dari dalam pabrik dan bukan merupakan air limbah yang berasal dari pengelolaan bolu.

Menyikapi tanggungjawab yang dinyatakan atau diberikan tim Menajemen Bolu Amanda terkait terjadinya pencemaran lingkungan selama 5 tahun berdirinya pabrik tersebut, dinilai sangatlah tidak etis, dan terkesan buang badan atau minimnya tanggungjawab.

Demikian disampaikan, Ir Roy Nainggolan selaku Ketua DPW LSM TOPAN RI Sumatera Utara, ketika diminta tanggapannya terhadap adanya pencemaran lingkungan yang ada di pabrik pengelolaan Bolu Amanda.

“Setelah mencemari lingkungan, dan membuat kesehatan warga sekitar menjadi buruk, apalagi ini sudah berlangsung selama lima tahun, bagaimana bisa mereka hanya bertanggungjawab dengan pindah lokasi dan melakukan pembersihan saja?. Enak sekali mereka. Ini sudah masuk ranah pidana, mana bisa hanya sebatas itu saja tanggungjawab yang dilakukan, terlalu minim,” ujar Roy.

Menurut Roy, pelaku usaha harus dikenakan sanksi pidana ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. “agar ditindak tegas sesuai rana hukum pelaku usahanya dan ganti rugi semua kerusakan yang sudah ditimbulkan, itu baru benar pemerintah dan aparatur hukum memberikan rasa adil ditengah-tengah masyarakat.

Jangan mau masyarakat dibodohi dengan hanya berjanji akan pindah lokasi kemudian melakukan pembersihan. Itu sama saja lepas tanggungjawab namanya,” tegas Roy  dan akan segera menyurati pihak pengusaha dan pemerintah agar turun dan memberikan tindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku dan diminta untuk menganti rugi seluruh kerusakan lingkungan yang disebabkan keberadaan pabrik tersebut. *MRH


Share it:

Bisnis

Kolom SKPD

Medan

NEWS

RAGAM

Post A Comment:

0 comments:

Iklan Layanan Masyrakat

MEDAN-hariancentral.com