Kolom As Atmadi

Share it:
hariancentral.com:


Kupak-kapik 


 Oleh As Atmadi (Pemimpin Redaksi Harian Central)



NASIONALISME bukan hanya saat anak negeri, anak-anak bangsa  melawan dan mengusir kolonial (penjajah) Belanda yang menghisap seluruh hasil bumi Indonesia. 

Nasionalisme ialah paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan negara mewujudkan satu konsep identitas bersama yang menguntungkan sekelompok manusia (rakyat Indonesia).

Nasionalisme bisa jadi benteng yang harus dimiliki anak-anak bangsa untuk melawan segala bentuk tindakan merugikan dan merusak bangsa dan Negara yang bersifat ancaman kehancuran. 

Nasionalisme mampu menghadapi apa saja yang menjadi musuh rakyat. Nasionalisme itu kecintaan alamiah terhadap Tanah Air, mampu mendorong membentuk kedaulatan dan kesepakatan bernegara.

Lalu, apa kabar nasionalisme di era globaliasi ini? Adakah globalisasi sudah benar-benar melunturkan semangat nasionalisme yang seharusnya wajib tetap berada di batin dan sanubari. Sehingga tak akan runtuh sampai kapanpun. Kata bung Karno bersama saudara-saudara pemuda Indonesia dimasa perjuangan, rawe-rawe rantas malang-malang puntung melintang patah membujur lalu.

Nasionalisme-lah yang menjamin tak ingin jiwa dijajah, tak pernah mau tunduk dan menyerah kalah, nasionalisme pula yang pantang untuk merampok uang Negara untuk kesejahteraan rakyat Apa lacur? Jika mau jujur, nasionalisme gugur oleh serangan globalisasi informasi. Watak dan karakter rusak setelah mendewakan narkoba, maksiat, korupsi. 

Membuat anak bangsa yang sebelumnya cerdas menjadi tolol, dungu bisa menjadi budak nafsu serakah, tamak, loba, setelah hidup tanpa nasionalisme. Secara bersamaan di muka bumi ini, globalisasi membawa dampak bagi kehidupan suatu Negara sedang berkembang. Globalisasi memengaruhi berbagai bidang kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya negeri. 

Hidup menjadi kontoversial, benarkah nasionalisme masih tetap dapat membangun naluri untuk mempertahankan, atau sudah hanyut dalam kehidupan global. Naga-naganya nasionalisme anak bangsa bertekuk lutut terhadap budaya kehidupan baru yang terbungkus berbagai bentuk kejahatan dan maksiat. 

Bukankah yang paling abadi di dunia ini adalah perubahan. Indonesiapun berubah, dari yang tabu menjadi modis. Sesama lelaki berpasangan bercinta, padahal ayam jantan dikurung satu kandang akan berkelahi sampai ada yang mati, boro-boro bercinta. Sesama wanita juga bercinta.  

Korupsi yang besar-besaran disegala lini adalah juga potret lunturnya nasionalisme. Masing-masing hidup individualistis, memperkaya diri dan keluarga. Sementara pemuda Indonesia keluar dari keindonesiaan. Tumbuh sebagai bangsa kupak-kapik. *red

Share it:

Post A Comment:

0 comments: