hariancentral.com:

 Konflik
                                                                 Oleh As Atmadi (Pemimpin Redaksi Harian Central)

HIDUP di Negeri ini semakin terasa seperti sedang menyaksikan pertujukan drama konfensional yang klise. 

Pertunjukan dengan pelaku protagonis dan antagonis yang sejak zaman Yunani sudah ada, bergulir terus di sini.

Protagonis (bahasa Yunaniprotagonistes) adalah tokoh utama dalam bukufilmpermainan video, maupun teater

Protagonis adalah tokoh baik (tidak bejat) yang melawan antagonis, sering merupakan seorang pemeran utama. Protagonis ialah sang jagoan kontra dengan antagonis (lakon buruk) memunculkan konflik.

Antagonis adalah musuh karena prilakunya bejat, melanggar hukum, menabrak norma-norma, tak bermoral, tak punya hati nurani, lebih cenderung ke perbuatan setan. Tokoh protagonis dan antagonis senantiasa menjalin pertikaian (saling bermusuhan) menjadi kisah kehidupan dramatik dan kotradiktif, berkembang sampai mencapai klimaks. Brutus sang antagonis membunuh Julius Caesar (simak naskah drama karya Willliam Sahkespeare).

Kini rakyat  Negeri ini sedang dihadapkan pada panggung drama konfilk, menujukkan kepada dunia siapa sebenarnya yang kuat dan hebat.

Dalam kisah nyata ini bentuk-bentuk konflik saling membuka masing-masing kesalahan (pelanggaran hukum dan penistaan) dengan kadar beragam. Ada kadar pidananya diancam hukuman enam bulan sampai dua tahun. Ada pula yng bisa dihukum duapuluh tahun sampai seumur hidup.

Ada yang menyerempet politik dan melanggar etika, ada yang menista agama, ada pula yang diduga melakukan tindak pidana korupsi. Koruptor  laksana gurita membelit dan mencekik di hampir seluruh sistem kehidupan. Melilit di sistem birokrasi pemerintahan, hukum dan politik.

Semakin diperdebatkan dan saling mempertahan diri, lalu masing-masing aib penegak hukum semakin terbuka dan  nyata di mata dunia negeri ini menyimpan banyak keburukan. Membenam banyak kasus-kasus pidana selama ini, menimbulkan aroma yang dihembuskan media massa sungguh penyelenggara negara dililit kebusukan.

Drama politik ini harus diselesaikan. Ditutup dengan bijak oleh tokoh tritagonis (tokoh pembantu memecahkan masalah ) agar bisa keluar dari konflik kebusukan. 

Merupakan upaya sadar untuk membedakan atau menyeparasi diri dari sistem yang  ada. Agar tidak menjadi bola liar dalam kondisi politik di negeri ini. Siapa si tritagonis itu?
-0-
Share To:

Harian Central

Post A Comment:

0 comments so far,add yours