Kolom As Atmadi - hariancentral.com

Breaking

Menyuarakan Kebenaran Demi Keadilan

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Tuesday, 22 November 2016

Kolom As Atmadi

hariancentral.com:

Ketidakadilan
                                                                 Oleh As Atmadi (Pemimpin Redaksi Harian Central)

DESA, langsung terbayang adalah perkampungan tempat tinggal sekolompok masyarakat. Hidup dalam geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomis dan kultural setempat. Desa di bawah pemerintahan daerah kabupaten dan provinsi.  

Jika disebut desa tertinggal, itu artinya kehidupan sekelompok masyarakat yang tinggal di sebuah desa tidak maju dan berkembang. Tertinggal dari kehidupan global, tertindas oleh kemiskinan. Karena kehidupan ekonominya buruk, kesejahteraannya tetinggal dari kehidupan Desa Kesawan dan desa lainnya di kota Medan yang dihiasi pembangunan gedung-gedung pencakar langit. 

Desa tertinggal adalah daerah di kabupaten dan tanggungjawab pemaerintahan provinsi yang masyarakat serta wilayahnya relatif tak berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. Nah, betapa tidak sedikit orang terkejut begitu diinformasikan ada 4.000 desa tertingga di Sumatera Utara (Sumut). 

Padahal secara realitas setiap tahun ada APBN, APBD ada dana alokasi khusus lainnya untuk membangun desa dan masyarakatnya. Ada pula program Nawacita Presiden Jokowi, semestinya kalaupun belum bisa habis desa tertinggal, paling tidak berkurang. 
Siapapun tahu, ada yang salah di situ, mengakibatkan desa tertinggal. Salah satunya ialah pembangunan tidak merata. Skala prioritas pembangunan biasanya tertumpu di kota. Sehingga orang-orang di desa terpencil semakin tertinggal, sebagai warga negara Indonesia tidak dapat merasakan apa-apa arti pembangunan. 
Bahkan di dalam desa-desa tertinggal banyak warganya hidup dalam kemiskinan di antara para keluarga dan anak-anak  koruptor hidup foya-foya. Ketika pemimpin terdahulu mengatakan pembangunan harus terlaksana di wilayah mana pun dari seluruh Indonesia, kini di daerah Sumut orang-orang miskin hidup dalam ketidaklayakan, jauh panggang dari api tentang kesejahteraan di 4.000 desa tertinggal itu. 
Desa tertinggal ialah juga potret dari ketidakadilan pembangunan kesejehteraan. Kalau ada 4.000 desa tertinggal di Sumut, itu artinya sudah berlaku ketidakadilan yang menciptakan masyarakat desa semakin jauh dari kesejahteraan. Kebijakan yang dilahirkan pemimpin provinsi masih memandang sebelah mata di sector pembangunan desa. Sehingga jutaan orang tercerabut dari haknya untuk dapat menikmati pembangunan (awas pelanggaran HAM). 


Kini UU tentang Desa dalam praktiknya mempercepat pembangunan ekonomi sebagai sumbu utama untuk kesejahteraan rakyat. Sesuai konsep kebijakan pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla yang berpihak pada masyarakat pinggiran, masyarakat desa dan kampung-kampung terpencil sebagaimana bunyi nawacita ketiga. *RED

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here