Kolom As Atmadi - hariancentral.com

Breaking

Menyuarakan Kebenaran Demi Keadilan

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Tuesday, 15 November 2016

Kolom As Atmadi

hariancentral.com:

Surat Untuk Desi,..
Oleh As Atmadi (Pemimpin Redaksi Harian Central)


DES,…ketika kesempatan buruk kamu ambil, dan sekarang kamu baru percaya korupsi telah mendustaimu, tak perlu menangis. Di penjara kamu harus lebih percaya perbuatan buruk (korupsi) ada konsekuensinya. 

Ketahuilah bahwa kamu tengah belajar untuk mengerti yang baik-baik dalam firman-Nya. Desi Nurul Fajar, yakinlah Tuhan juga tahu kau seorang perempuan beranak kecil divonis 6 tahun penjara dan denda Rp200 juta dari perbuatanmu merugikan negara.

Desi,… peradilan di bumi telah membuktikan kau dan temanmu memalsukan kwitansi pembayaran uang kuliah Sekolah Pasca Sarjana USU tahun 2009-2014. Sehingga jumlah uang kuliah berkurang menjadi Rp 7 miliar lebih, dari yang seharusnya di setor Rp 14 miliar.

Des,..tak perlu menangis terisak-isak manakala mendengar vonis hakim enam tahun penjara untukmu. Sayang Des, mengapa pertimbangan punya anak masih kecil, harus ditinggal selama enam tahun, baru muncul sekarang.

Seandainya risiko korupsi dibayangkan sebelumnya, mungkin Desi tidak akan melakukan korupsi. Tetapi terlambat Des, nasi sudah menjadi bubur. Duit telah menipu dan menggelapkan hati seorang kaum intelektual kampus seperti kamu.

Desi,… kau tidak sendiri, sebelum kamu sudah banyak orang salah duga, semestinya akademisi, kaum intelektual jauh dari perbuatan korupsi yang busuk dan hina. Nyatanya tidak sedikit orang-orang terdidik sedang menjalankan profesinya di perguruan tinggi ikut korupsi,mencuri, pungli,jual beli ijazah palsu dan perbuatan bejat lainnya.

Nah, Des, jadikan pengalaman pahit atas perbuatan yang lalu. Kembalilah ke jalan yang benar berdasarkan sunatullah. Jangan lagi ikut terangsang oleh kehidupan kampus negeri, sebagaimana USU dan UI tak lekang dari tindak pidana korupsi. Kampus yang dianggap sakral, suci, mengajarkan ilmu pengetahuan dan moral kepada setiap calon intelektual (mahasiswa) kini menjadi kotor.

Des, dalam pewayangan, akademisi di kampus laksana batara guru yang sakti, jujur, adil dan terbebas dari angkara murka. Batara Guru memberikan panah pasopati kepada Arjuna (generasi muda) untuk membunuh raja raksasa angkara murka (bengis, bejat, biang segala kejahatan).

Des, batara guru (insan akademisi) kini kehilangan kesaktiannya. Para akademisi bergelar doktor dan profesor, guru besar di mata mahasiswa berdiri dalam jajaran koruptor. Mengemplang uang negara untuk proyek pengembangan, rumah negara dan apa saja disantap. Bersama jiwa angkara murka menggendutkan rekening, mengumpul harta, membangun rumah di mana-mana, punya banyak kebun sawit, setelah berkuasa di kampus.


Des,rasanya tak ada gunanya pendidikan sejak di bangku SD dan pendidikan agama sampai perguruan tinggi untuk membentuk jiwa kepemimpinan, kejujuran dan keteladanan, kalau akhirnya jadi koruptor. Des, sampai di sini dulu, renungkanlah,…M02 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here