Kolom As Atmadi

Share it:
hariancentral.com:


“Imagine All the,…”
Oleh As Atmadi (Pemimpin Redaksi Harian Central)

                                       
IMAGINE all the people living life in peace, bayangkan semua orang hidup dalam kehidupan damai…., syair lagu yang ditulis mendiang John Lennon itu merupakan imajinasi banyak orang di dunia. 

Mendapatkan harapan hidup dalam kedamain, tanpa mesiu dan darah  menjadi imajinasi seluruh kehidupan manusia. Begitu juga saat berhadapan dengan pemimpin, berharap banyak melahirkan kedamaian.

Bukan sebaliknya,…setelah rakyat hidup bersama pemimpin menciptakan korup menggurita dalam sistem pemerintahan. Gambaran nyata  betapa boroknya tata pemerintahan di negeri ini.

Fenomena korup menghasilkan kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan, serta buruknya pelayanan publik. Akibat dari korupsi penderitaan selalu dialami oleh rakyat kecil yang berada dibawah garis kemiskinan. 

Lihatlah dibeberapa daerah dari berita-berita di media cetak maupun elektronik, rakyat jadi korban banjir, longsor, infrastruktur hancur, taransportasi terganggu, distribusi barang-barang terhambat, kesehatan masyarakat terpuruk. Dan semua itu efek dari korupsi yang merajalela menghantam rakyat kecil tidak berdosa.

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak, yang sudah diambang pintu ialah jalan yang diharapkan seluruh rakyat Indonesia, akan melahirkan kedamaian, keadilan, kemakmuran kesejahtraan seluruh anak bangsa. Imagine all the people. Malah yang terjadi masih sangat jauh dari semua imajinasi keadilan. 

Para pasangan kandidat kepala daerah sudah muncul. Tidak lagi seramai sebelumnya. Malah calon tunggal lebih banyak. Apakah ini pertanda sudah semakin banyak orang-orang yang cuma menggumbar syahwat kekuasaan untuk mencari untung pribadi sudah sadar. Karena rakyat sudah pintar, tidak akan memilih orang-orang yang culas, penipu, politikus busuk, suka menginjak leher rakyat, pengkhianat sumpah demi Tuhan. 

Di Pilkada, rakyat akan memilih untuk tidak lagi memilih kandidat pemimpin yang tidak pro rakyat. Rakyat tidak akan memilih kandidat pemimpin yang cemen, anggar jago karena orantuanya banyak duit  dari hasil korup sebelumnya. 

Jangan sampai rakyat kembali tersungkur karena memilih kandidat tidak beriman, suka mencuri uang rakyat, suka selingkuh, suka menghina dan menyakiti istri, suka membela istri yang korup, suka narkoba, lebih suka hoga-hoga ketimbang beribadah.

Mencari kandidat pemimpin di Pilkada yang kredibel, punya integritas, profesional mampu menyejahterakan rakyatnya, sama susahnya dengan mencari jarum di lapangan bola. Awas, jangan lagi rakyat gampang terbuai dan terpesona dengan janji-janji basi dan busuk. Digambar dulu secermat mungkin riwayat hidupnya, rekam jejaknya, rumahtangganya, jangan sampai ada keluarganya dilumuri kejahatan narkoba dan penipu kelas kakap. 

Ingat pemimpin yang korup, jahat dan bobrok jangan mimpi dapat menciptakan keharmonisan, kemaslahatan serta kesejahteraan rakyat. Hubungan antara korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) seperti kuku dan daging. Walaupun disini tindak pidana korupsi secara langsung belum diteliti hubungan substantif korupsi dengan HAM. 

Padahal korelasi keduanya sangat jelas, hampir dalam semua kasus korupsi, secara langsung maupun tidak langsung akan diikuti oleh pelanggaran HAM. 

Perbuatan  korupsi selalu berawal dari adanya penyalahgunaan kekuasaan. Artinya pelaku korupsi biasanya dilakukan oleh para pemegang kekuasaan. Perbuatan menyimpang yang dilakukan oleh aparat birokrasi dalam bentuk korupsi, tetap dapat membuat kesengsaraan bagi rakyat kecil disuatu negara. *RED


Share it:

Post A Comment:

0 comments: