Kolom As Atmadi

Share it:
hariancentral.com:

Demo, Fasis, Anarkis
Oleh As Atmadi (Pemimpin Redaksi Harian Central)
  
PASCA perang dunia kedua, PBB melarang negara-negara di dunia menganut fasisme. Ialah kekuatan poros dalam perang dunia kedua, istilah fasis telah digunakan sebagai kata merendahkan. Adalah gerakan radikal ideologi nasionalis otoriter politik. Fasis berusaha untuk mengatur bangsa dengan pembentukan partai tunggal, totaliter. Fasis percaya bangsa memerlukan kepemimpinan yang kuat, dan untuk melakukan kekerasan.


Menurut Rudolph Rocker dalam artikelnya yang berjudul “Anarkisme, Tujuannya”, anarkisme merupakan arus intelektual, dan filsafat yang menyokong permusnahan monopoli ekonomi kapitalis. Anarkisme bukanlah ide utopia hasil dari pemikiran imajinatif seseorang, tapi merupakan kesimpulan logika dari penelitian tentang kebobrokan sistem sosial yang ada pada suatu keadaan.
Hari ini, dipicu berbagai kepentingan tertentu, atau politisasi cita-cita yang tanpa disadari dapat merugikan banyak orang dan menciptakan kegaduhan anak-anak bangsa, yang dapat menggoyang dan merusak pilar-pilar demokrasi. Tak dapat dielakkan anarkis menciptakan kehidupan sangat buruk, mencekam, dan sangat-sangat merugi. Secara manusiawi memang tiap-tiap  ketidakadilan sangat dibenci. Sesuatu yang menindas dan zalim terhadap sesama merupakan sesuatu yang memang menyalahi Sunnatullah (ketentuan Allah Swt).
Mafhumnya, andaikata manusia mau beriman pada Al-Quran, seluruh jawaban bagi berbagai permasalahan hidup sudah tersedia solusinya. Terlebih masalah sosial kemasyarakatan. Sangat banyak ayat dan hadits yang memberikan solusi logis dan terbukti berhasil diterapkan di masa lalu. Sudah pernah Allah Swt menyuguhkan model masyarakat yang adil di dunia ini dalam sejarah Islam masa lalu, yaitu Madinah.
Adil, banyak sekali terdapat dalam ayat Al-Quran. Allah Swt berfirman:“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl :90)
Profesor  H Abdulkarim Amarullah (Hamka) dalam tafsirnya yang terkenal, Al-Azhar, menjelaskan makna adil dalam ayat tersebut yakni “menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar, mengembalikan hak kepada yang empunya dan jangan berlaku zalim, aniaya.” Lawan dari adil adalah zalim. Yang artinya memungkiri kebenaran karena hendak mencari keuntungan bagi diri sendiri, mempertahankan perbuatan yang salah, sebab yang bersalah itu ialah kawan atau keluarga sendiri.

Maka benang merahnya, menurut Hamka, selama keadilan itu masih ada di masyarakat, pergaulan hidup manusia, maka selama itu pula pergaulan akan aman sentosa, timbul amanat dan percaya-mempercayai. Berusahalah, saat hati panas kepala tetap dingin. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Gemah ripah loh jinawi. *RED
Share it:

Post A Comment:

0 comments: