Kolom As Atmadi

Share it:

Anak Kehidupan 
 Oleh As Atmadi (Pemimpin Redaksi Harian Central)

ANAKMU adalah bukan anakmu, tetapi anak kehidupan yang bagai anak panah lepas dari busurnya melayang bebas menancap ke mana saja. Begitu puisi Kahlil Gibran yang mengingatkan para orangtua. Mereka sekadar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu. Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu, curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.

Tidak urung anak-anak hidup dan berkembang dengan pengaruh lingkungan. Orangtua hari ini tiba-tiba terhenyak! Kaget melihat anak kelas 3 sekolah dasar memukuli teman sekolahnya sampai mati. Dan tidak sekali dua terjadi kekerasan dilakukan oleh anak-anak sekolah dasar sampai membuat temannya luka-luka, cacat atau mati.

Jika disadari dengan benar, semestinya para orangtua tidak perlu kaget melihat kekerasan dilakukan anak-anak SD dan anak di bawah umur lainnya. Kalau orangtua menumbuhkan komunikasi kepada anak dengan keras, akan melahirkan generasi yang buas. Memukul, membentak dengan suara keras, menghardik saat anak melakukan kesalahan, maka orang itu sudah mengajari anaknya yaitu, dengan cara kekerasan akan menyelesaikan masalah.

Budaya kekerasan yang dilakukan anak-anak saat ini tidak begitu saja muncul dari dirinya, diyakini ada latar belakang prilaku orangtua mengajarkan tindakan kekerasan. Apabila anak buat salah, lalu dipukuli,diinjak-injak perutnya, membanting kepala anaknya ke lantai sampai  mengeluarkan darah dan minta ampun baru berhenti.

Lingkungan juga dapat mengajarkan anak berpikiran kotor, tindak kekerasan dan merampok milik teman sekelasnya. Dari mulai televisi, HP, warnet, video game turut andil mengajarkan anak-anak menyaksikan aksi kekerasan.

Anak-anak adalah hamparan tanah yang subur, siap untuk ditanami bibit apa saja. Kalau kepada anak-anak tertanam bibit kejahatan, kekerasan dan kebuasan, pastilah yang tumbuh sikap keras, kasar dan buas.

Ditanamkan kepada anak bibit prilaku suap dan korup, masuk sekolah favorit anaknya tahu ayahnya membayar Rp10 juta. Nilai supaya bagus ibunya menyuap guru. Sekarang anak-anak itu sudah dewasa merasa korup adalah usaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Karena orangtuanya mengatakan didepan anak-anaknya saat menonton koruptor ditangkap, “ kasihan dia sedang apes.” Perilaku, ucapan, sikap, dan pikiran yang buruk menjadi suatu rentetan sebab akibat dari suatu  yang telah ditanamkan jauh-jauh hari kepada anak. Tepuk dada tanya selera mau dijadikan apa anak-anak kehidupan. *red


Share it:

NEWS

Pendidikan

Post A Comment:

0 comments: