Sabam Lumban Gaol : Pengawasan Proyek Diperketat, Korankan Bila Ada Temuan

Share it:
SIBORONGBORONG | CENTRAL

Pengerjaan pembangunan Bendung D I Sidilanitano dengan potensi lahan 2.420 hektar di desa Paniaran Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara dengan rekanan penyedia jasa PT Kharisma Bina Konstruksi dengan anggaran Rp41 miliar dari APBN 2015 (tahun 2015, 2016, 2017) sudah dilaksanakan sejak 03 November 2015 dengan waktu pekerjaan 750 hari kerja.

Menurut Sabam Lumban Gaol, pihaknya (Balai Wilayah Sungai II Sumatera II) siap menggaransi kuantitas dan kualitas pekerjaan sesuai kontrak tanpa ada kekurangan.
Dengan jaminan itu, pihak BWS sendiri katanya, sejak dimulainya pekerjaan sudah menurunkan staf pengawas tehnik sebanyak empat orang (Sabam Lumban Gaol, Mansyur Siregar, Ari Siregar dan Fahri Siregar) ditambah pihak konsultan perencana/pengawas PT Alles Klar Prima yang selalu stand by melakukan pengawasan 24 jam di lapangan.


Pihak BWS sesuai keterangan Sabam, mengharapkan monitoring maksimal pihak lain seperti LSM dan jurnalis. Dengan adanya pemberitaan media, pihaknya, merasa senang dapat mengoreksi kekurangan sehingga membantu tidak terjadinya penyelewengan tuntutan isi kontrak yang dikerjakan penyedia jasa.

“Saya tidak mau terjebak karena pekerjaan tidak becus. Tanpa melakukan pelanggaran, kontraktor sudah dapat untung 10%. Sekarang sudah zaman transparansi dan kita tidak mau tersangkut hukum dipanggil kejaksaan atau kepolisian diakhir masa pensiun saya sebagai Aparatrur Sipil Negara”, kata Sabam sambil menekan agar dikorankan bila ada temuan.

Disinggung kembali terkait keberadaan Stone Cruisher, menurut Sabam, itu tidak menyalahi aturan kontrak asalkan tidak melakukan penjualan atau pengiriman produksi keluar lokasi pekerjaan. Dan kemajuan progres pekerjaan pada saat ini,katanya, sudah berada pada keadaan 22% dan dipastikan pekerjaan akan rampung sesuai target, ungkapnya.


Sebelumnya, pada pemberitaan harian CENTRAL, bahwa pekerjaan diduga sarat penyimpangan. Pasalnya, menurut penuturan warga bahwa pemakaian material batu untuk keperluan pemasangan bronjong dan batu yang digiling untuk pengecoran, dikatakan  berasal dari lokasi Batu Harang Kecamatan Pagaran yang baru-baru ini dirazia pihak Kepolisian Resort Tapanuli Utara yang dipimpin langsung Kapolres AKBP Dudus HD.

Paling parah, sesuai keterangan warga kepada CENTRAL, batu gunung bekas bongkaran bronjong beberapa tahun silam yang bersumber dari dana Bansos kala itu turut diolah dengan mesin gilingan mini yang diperkirakan berkapasitas 25-30 meter kubik/8 jam.

“Pihak pemborong sebelum kawasan Batu Harang dirazia sudah menerima puluhan dump truk pasokan batu didatangkan pihak PT MIK kelokasi. Dan sekitar lima ratus meter kubik batu pasangan bronjong bantuan Bansos beberapa tahun lalu, turut dipergunakan dan digiling dilokasi”, terang sumber yang layak dipercaya kepada CENTRAL, Sabtu (16/4) lalu.

Nara sumber CENTRAL memastikan penggunaan material batu dari lokasi pekerjaan maupun dari lokasi kawasan Batu Harang sudah menyimpang dari ketentuan kontrak. Sebab, sesuai pengakuannya pihak PT Kharisma Bina Konstruksi melakukan uji sampel agregat kasar ke laboratorium USU di Medan adalah dengan membawa batu pecah berbagai ukuran dari penggilingan batu dari salah satu Pabrik Stone Cruisher milik CV Jimandes. (JMP)



Ket Foto : Stone Cruisher milik PT Kharisma Bina Konstruksi. (CENTRAL/Jumpa P Manullang)


editor : raymond simbolon
sumber : harian central
Share it:

Central daerah

NEWS

Post A Comment:

0 comments: