Pengusaha di Nias Tunggak Pajak Rp17 M

Share it:
NIAS | CENTRAL
Pasca pembunuhan dua petugas penagih pajak di Kota Gunungsitoli, sejumlah pengusaha di lima kabupaten/kota Kepulauan Nias mempersoalkan tindakan KPP Pratama Sibolga atas penagihan pajak yang bernilai puluhan miliar dan diduga menyalahi aturan membuat tagihan kepada wajib pajak asal-asalan dan terindikasi ada perbuatan melawan hukum berupa pemerasan.


Terkuaknya penagihan pajak puluhan miliaran rupiah yang terus dilakukan KPP Pratama Sibolga di lima kabupaten/kota di Kepulauan Nias terhadap sejumlah pengusaha lokal yang terdaftar sebagai wajib pajak, tidak sebanding dengan aset, bahkan omset yang dikelola para pengusaha di Kepulauan Nias.


Pengusaha Faebua Dodo Harefa berdomisili di Kota Gunungsitoli penampung hasil bumi, mengalami  tagihan pajak sebesar Rp31 miliar. Setelah ditelusuri dan membuat sanggahan atas pembayaran pajak sebesar Rp31 miliar, ternyata pajak hasil penjualan hasil bumi selama ini telah ditanggung oleh salah satu pengusaha di daerah Sumatera Barat tempat dia menyalurkan hasil bumi. Sebab, setiap ada transaksi penjualan secara otomatis pihak pengusaha/pabrik telah melakukan pemotongan pajak dan pihak perusahaan/pabrik terlebih dahulu memberitahukan.

Harefa menambahkan, pada hari yang sama, dimana kedua pegawai pajak dihabisi oleh AL, kami juga didatangi dengan menyerahkan surat sita karena memiliki utang pajak sebesar Rp31 miliar.

Faebua Dodo, menuturkan saat ini dia tengah melakukan sanggahan terhadap jumlah tunggakan pajak tersebut hingga mencapai miliaran rupian. “Saya bersama jasa konsultan tengah menyanggah tunggakan pajak tersebut, meski saya jual semua aset saya maka tidak akan sanggup menutupi tunggakan pajak yang sebesar Rp31 miliar. Anehnya KPP Pratama Sibolga selalu ngotot harus dibayar/dilunaskan utang tersebut walau telah kita buat sanggahan dan jelaskan. 

Ironisnya, hampir semua pengusaha lokal yang dikenai tunggakan pajak hingga miliaran rupiah di lima kabupaten/kota di Pulau Nias saat ini menjerit, yakni Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Nias Barat, Nias Utara dan Nias Selatan tidak sebanding dengan aset dan modal yang dikelola karena sebagian utang pinjaman bank dengan bunga uang yang harus mereka bayarkan Rp17 Miliar Jadi Rp93 Juta.
 
Marinus Gea pengusaha kawakan di Pulau Nias, salah seorang pengusaha jual-beli getah karet, dirinya ditagih tunggakan pajak yang bernilai Rp17 miliar lebih dan setelah disanggah membuat keberatan, Marinus Gea akhirnya hanya menebus Rp93 juta dari penagihan awal Rp17 miliar.

Marinus mengatakan, “Saya hampir kena jantungan, dengan kedatangan mereka yang menyampaikan tunggakan pajak yang harus saya bayarkan dengan angka fantastis hingga Rp17 miliar lebih, padahal keuntungan saya dalam setahun tidak mencapai miliaran rupiah,” timpalnya.

Tidak adanya sosialisasi wajib pajak kepada pengusaha serta tidak bisa menjelaskan dasar penetapan pajak secara rinci kepada setiap pengusaha lokal di Nias, praktik tagihan tunggakan sejumlah pajak miliaran tumbuh subur di Pulau Nias.

Hingga berita ini diturunkan, belum mendapat konfirmasi dari kantor pajak setempat atas keberatan para pengusaha di Nias ini. (JF)


editor : raymond simbolon
sumber : hc
Share it:

Central daerah

NEWS

Post A Comment:

0 comments: