*Ortu Sesalkan Polres T.Tinggi Belum Mampu Tangkap Pelaku

Share it:

Kedua rang tua korban Pencabulan Yetno dan Mariana (tengah) bersama keluarganya

TEBING TINGGI | CENTRAL
Kendati sudah hampir  satu bulan dilaporkan resmi ke Polres Tebing Tinggi terhadap  kasus pencabulan anak perempuan dibawah umur  berinisial SU,14 murid kelas I SMP Swasta Taman Siswa yang di larikan ke Jakarata. Namun hingga kini pelaku  pencabulan  bernama Benton Aritonang ,38 pria yang sudah beristri, memiliki 7 orang anak tersebut belum juga  tertangkap.

Bahkan Ironisnya, Benton yang berprofesi  sebagai toke ikan itu, beraninya melarikan korban ke Jakarta setelah terlebih dahulu mengaborsi dua bulan kehamilan korban Sulastri yang merupakan anak  ke-empat  dari  7 bersaudara  anak pasangan suami istri (pasutri) Yetno,59 dan Mariana,47 warga jalan Asrama Kodim Lk VI Kel Persiakan Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi.

Menurut  penjelasan   orang tua korban  Yetno dan Mariana didampingi tetangganya  Butet br Siregar dan Mariam saat dikonfirmasi wartawan Minggu (10/4) dikedimannya , menceritakan,bahwa  terjadinya kasus pencabulan itu, berawal  ketika dibulan Nopember 2015 s/d Januari 2016, anak gadis Mariana bernama Sulastri disuruh korban  untuk membantu menggosok pakaian di kediaman rumah pelaku yang tidak jauh dari rumah korban.

Setelah itu pelaku Benton  meminta izin kepada orang tua korban (Mariana) agar dapat memperbolehkan korban  tidur  dirumah pelaku dengan alasan agar korban dapat menjagakan  anak  pelaku yang masih kecil karena  sering menangis.

Tetapi permintaan itu  sempat ditolak Mariana (orang tua korban) dengan alasan anaknya masih sekolah,namun pelaku  Benton bersama istrinya R br Pasaribu  memohon lagi, agar korban dapat diperboleh kan tidur dirumah mereka ,dengan berat hati tanpa ada kecurigaan negatif sama sekali,akhirnya Mariana orang tua korban mengizinkan anaknya  untuk  tidur di rumah pelaku , bahkan pelaku Benton sering mengantarkan Sulastri ke SMP Swasta Taman Siswa jalan Deblod Sundoro Tebing Tinggi.

Terkuaknya kecurigaan kabar kehamilan itu, terlihat dari perubahan bentuk tubuh korban Sulastri yang semakin membesar , ketika ditanya  kedua orang tuanya kepada, Sulastri, korban sempat menggelak seraya menyebutkan gak  ada  terjadi  apa-apa  , namun kerana hal itu sudah terhendus oleh warga setempat . Benton pelaku cabul akhirnya membawa korban Sulastri ke se- seorang dukun aborsi /tukang kusuk ke arah Kuala Tanjung untuk menggugurkan kandungan Sulastri .

Setelah proses pengguguran terjadi, tak bebeberapa lama kemudian ternyata korban Sulastri mengalami pendarahan yang cukup serius ,kemudian korban dilarikan ke salah seorang bidan persalinan bernama Lamro  dengan maksud  menjalani pemeriksaan, setelah diperiksa  ternyata bidan   menyebutkan ,bahwa  pendarahan korban  diakibatkan karena  adanya indikasi pemaksaan abosrsi terhadap anak dibawah umur.

Ketika warga  setempat mengancam akan melakukan aksi demo ke rumah Beston pelaku cabul .Ternyata pelaku  yang sudah memiliki  7 orang anak itu justru nekad melarikan korban sulastri ke Jakarta ,yang dijemputnya  dari pulang sekolah sejak  31 Maret 2016 lalu, bahkan pelaku sempat meng  sms orang tua korban bersedia untuk menikahi  korban.   

Mendengar hal itu, Mariana (orang tua korban) bersama keluarga langsung melapor  ke Polres Tebing Tinggi. Selain itu kasus pencabulan itu juga sudah diadukan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia  (KPAI) Tebing Tinggi.  

Terkait kasus itu ,Informasi di Mapolres Tebing Tinggi menyebutkan, bahwa BAP belum lengkap namun pihak petugas telah melakukan proses  awal penyelidikkan.(Kim/Tanjung).
 Editor : Markus Tanli Simbolon
 Sumber : Harian Cenral
Share it:

Central daerah

NEWS

Post A Comment:

0 comments: