NEGERI INI MILIK SIAPA ?

Karya Tulis
Share it:
MEDAN| HARIAN CENTRAL
Negeri ini milik siapa ??? mungkin itulah pertanyaan yang selalu terbersit di benak semua orang. mengapa tidak, bahkan semua hasil bumi Indonesia ini tak satu pun yang dapat diperoleh dengan gratis atau setidaknya dengan harga murah. Semuanya serba mahal , bahkan minyak bumi yang merupakan hasil kekayaan alam bumi Indonesia sendiri pun tak dapat dimiliki seutuh nya .
“Kita pemilik , tapi kita jua lah Pembeli”,, mungkin itulah semboyan yang sangat cocok untuk menggambarkan realita yang terjadi saat ini di Indonesia tercinta . Kita bak pembantu di rumah sendiri , hasil bumi tak bisa dinikmati dengan harga murah .
Indonesia mempunyai segudang anak-anak bangsa yang pintar dan mampu mengolah hasil bumi Indonesia, tetapi talenta anak bangsa tak dipakai di negeri ini. Miris memang melihat realita yang terjadi di negeri ini. Kata orang rumah sendiri adalah surga bagi pemilik rumah , tapi kenapa tak satu pun diantara kita pemilik rumah yang dapat berkuasa di rumah kita sendiri . kalaupun ada , mungkin hanya segelintir orang yang dapat berkuasa di rumah sendiri.

Lalu , kemana sebagian besar lainnya ? ada yang bergelimang harta , tapi ada juga yang kelaparan . seperti itukah yang dinamakan tinggal di rumah sendiri ? dirumah kita sendiri saja kita bisa kelaparan , lalu bagaimana jika kita tinggal di rumah orang orang lain ? kemana semua wakil rakyat ? tidak kah mereka mendengar jeritan rakyat nya? Atau kah mereka memang tidak mempunyai telinga lagi untuk mendengar tangisan rakyat yang sedang diambang kematiannya?

       Tak sedikit orang pintar di negeri ini, tapi adakah yang mempunyai hati nurani untuk kepintarannya itu. Pada dasarnya banyak orang pintar yang memiliki hati nurani yang bersih dan tulus bagi negeri ini. Tapi, apa daya mereka tak bisa berbuat apa-apa , karena mereka tak dipakai di negeri ini. Mereka yang pintar tapi tak memiliki hati nurani lah yang di pakai dan duduk di kursi jabatan negeri ini.

Tapi apa boleh dikata , memang begitulah kenyataan yang terjadi di negeri ini. Sampai kapan hal ini terus berlanjut ? adakah yang berani membuat gerakan perubahan untuk negeri ini ? ataukah semua nya akan terus berlanjut seperti ini hingga hari penghakiman tiba ? tidak ada yang tahu pasti akan jawaban dari itu semua, hanya kita masing-masing pribadilah yang tahu akan jawaban dari setiap pertanyan miris tersebut.
         Lalu pertanyaan selanjutnya adalah salahkah kita bila bersifat jujur ? salah kah kita memiliki sifat kebaikan yang seperti itu ? siapa yang bisa disalahkan atas semua realita yang terjadi di negeri tercinta ini ? kalau orang yang seharus nya memiliki sifat jujur dan pengayom di negeri ini saja sudah tidak lagi seperti yang di harapkan, lalu haruskah kita yang memiliki sifat jujur dan kebaikan mengikuti sifat para pemimimpin kita yang buruk itu supaya kita mendapatkan apa yang kita inginkan ? lantas haruskah demikian yang di lakukan oleh setiap orang agar bisa makan di negeri ini? ada kata-kata bijak yang mengatakan ‘’ TULISLAH APA YANG KAU TAHU DAN KU TULIS APA YANG KU TAHU ‘’, yang artinya kelak kita sebagai pemuda mahasiswa hanya akan bisa melihat kebelakang untuk mengingat kembali setiap momen yang sudah kita lewati, lalu kita sendiri yang akan menilai tentang layak tidaknya semua sejarah yang sudah kita ukir untuk mengubah kemirisan yang telah ada.
         Bukan mengenai sukses atau tidak sukses dalam membuat perubahan, namun ini tentang niat dan praktek sederhana sebagai awal perubahan yang lebih besar. Dan mulailah untuk mengkritik sembari memberi masukan, bukan sekedar mengkritik lalu menghujat serta merendahkan. Karena sejak negeri ini merdeka Tahun 1945, telah tersebar bibit-bibit yang beraneka ragam di negeri ini, maka pilihan untuk menjadi bibit yang rusak dan yang baik ada ditangan pemuda mahasiswa yang bijak. Sementara untuk pemuda mahasiswa yang berpikir pragmatis, hanya akan menjadi bibit rusak yang berujung wabah di negeri ini, dan hanya akan mengotori setiap tetesan embun di pagi hari dan menggelapi terangnya sinar matahari di siang hari. untuk saat ini dan yang akan datang, pemuda mahasiswa harus mulai membangun kepekaan di dalam jiwa masing-masing terhadap realitas miris di negeri ini. . .

Penulis : Alumnus FH Unika St. Thomas (Jepri Sitohang, SH)

Editor: Jefri Boy S.M
Share it:

Central kota

Nasional

NEWS

Post A Comment:

0 comments: